Isi Dompet; Refleksi dan Makna Kehidupan

  • 03:22 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Mengingat beberapa hari ini sangat sibuk, saya tidak sempat menulis opini yang lebih kontekstual, akan tetapi minimal tulisan berikut memberi makna reflektif atas nilai kehidupan. Saya ingin mengulas dompet.

Dompet, sekilas hanyalah benda sederhana. Bentuknya rata-rata persegi panjang, bahannya pun bermacam-macam, mulai dari kulit, kain, hingga sintetis. Letaknya tersembunyi, tidak berada di ruang terhormat seperti cincin di jari atau jam tangan di pergelangan. Bagi perempuan, dompet terselip rapi dalam tas. Bagi laki-laki, ia nyempil di kantong celana belakang. Ia jarang dipamerkan, kecuali ketika harus dikeluarkan: saat membayar belanja, memberi uang kepada anak, atau bertransaksi di depan kasir. Namun, justru dalam kesederhanaannya, dompet menyimpan sebuah filosofi kehidupan yang dalam.

Meskipun tampak biasa, dompet adalah barang yang selalu diperhatikan. Ia menjadi incaran, ia diperhitungkan. Bagi sebagian orang, dompet adalah simbol status sosial, bukan pada wujud fisiknya, melainkan pada apa yang tersimpan di dalamnya. Bagi para pencopet, dompet bahkan lebih dari sekadar benda, melainkan pusat perhatian, sumber rezeki yang haram, sekaligus obsesi yang tak pernah lepas dari pikiran mereka. Dompet, bagi mereka, ibarat gadis manis yang menggoda untuk direbut, meski dengan cara yang kotor.

Lalu, apa yang membuat dompet begitu berharga? Tentu bukan semata ukurannya, bukan warnanya, bukan pula merknya. Nilai dompet terletak pada isinya, misalnya uang, kartu identitas, SIM, ATM, foto keluarga, atau catatan-catatan kecil yang menyimpan kenangan. Kehilangan dompet berarti kehilangan lebih dari sekadar benda. Ia bisa membuat seseorang gelisah, cemas, bahkan panik, karena di dalamnya tersimpan bagian dari kehidupan dan identitas diri. Menariknya, jika dompet kosong yang hilang, justru pemiliknya bisa merasa lega, seakan berhasil mengelabui pencopet. Dari sini kita belajar, bukan dompet yang menentukan nilai, melainkan isi yang melekat di dalamnya.

Filosofi ini berlaku pula pada manusia. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh bentuk fisik, warna kulit, atau kemasan luar. Nilai sejati ditentukan oleh isi seperti ilmu, akhlak, budi pekerti, kejujuran, kasih sayang, dan kontribusi yang kita berikan pada orang lain. Seperti dompet, kita mungkin tidak selalu tampak, tidak selalu di depan panggung, namun ketika isi kita berkualitas, orang akan mencarinya, menghargainya, dan membutuhkannya. Sebaliknya, jika isi kita hampa, secantik apa pun tampilan luar, orang mudah mengabaikan, bahkan melupakannya.

Maka, jadilah manusia seperti dompet. Ia sederhana, tersembunyi, namun bernilai karena isi di dalamnya. Jangan terjebak hanya pada kemasan, tetapi perbanyaklah “simpanan” kebaikan yang akan bermanfaat untuk orang lain. Karena hidup bukan tentang seberapa sering kita dipamerkan, tetapi seberapa banyak kita dibutuhkan.

Dan yang paling penting, jangan sampai kita menjadi seperti “dompet tua peninggalan nenek zaman dahulu” disimpan terlalu rapat, jarang disentuh, tetapi justru bisa membawa bahaya karena berisi sesuatu yang tidak lagi relevan. Kehidupan menuntut isi yang berguna, bukan sekadar penuh, melainkan penuh arti.

Hidup yang berharga adalah hidup yang menyimpan isi bernilai, bukan sekadar uang, melainkan nilai, bukan sekadar identitas, melainkan jati diri. Seperti dompet, jadilah tempat aman bagi kebaikan, rahmat, dan cinta, agar keberadaan kita selalu dicari, dirindukan, dan dirasakan manfaatnya.

Samata, 29 Agustus 2025