Gowa – Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) angkatan 2023 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar melaksanakan kunjungan akademik ke Kabupaten Tana Toraja dan mengikuti secara langsung prosesi adat Rambu Solo' pada Selasa, 30 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kuliah lapangan Program Studi SPI yang mengintegrasikan pembelajaran pada Mata Kuliah Arkeologi, Kepariwisataan, dan Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan sebagai upaya memperkuat pemahaman mahasiswa melalui pengalaman belajar di lapangan.
Kuliah lapangan tersebut dilaksanakan dalam bimbingan Nur Ahsan Syakur, S.Ag., M.Si. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Arkeologi, Dra. Rahmawati, M.A., Ph.D. dan Dr. Riswandi, S.Hum., M.Hum. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Kepariwisataan, serta Dra. Rahmawati, M.A., Ph.D. sebagai dosen pengampu Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa juga didampingi oleh St. Maisyah Nur Ali, S.Hum., M.Hum. yang memberikan pendampingan akademik dan arahan selama proses observasi di lapangan.
Kunjungan ke Tana Toraja bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengamati salah satu tradisi budaya yang telah dikenal secara luas sebagai warisan budaya masyarakat Toraja, yakni Rambu Solo', sebuah upacara adat pemakaman yang sarat dengan nilai sejarah, budaya, sosial, dan religi. Melalui observasi langsung terhadap prosesi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami dinamika kebudayaan Sulawesi Selatan secara lebih komprehensif, tidak hanya melalui literatur, tetapi juga melalui realitas sosial yang masih berlangsung hingga saat ini.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengikuti rangkaian prosesi Rambu Solo' sambil melakukan observasi terhadap berbagai unsur budaya yang tampak dalam pelaksanaan upacara, mulai dari tata cara pelaksanaan, simbol-simbol budaya, arsitektur rumah adat Tongkonan, penggunaan atribut tradisional, hingga keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan prosesi. Para mahasiswa juga melakukan dokumentasi lapangan dan pencatatan data sebagai bagian dari tugas akademik yang akan dianalisis pada masing-masing mata kuliah.
Dari perspektif Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Sulawesi Selatan, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana tradisi lokal tetap bertahan dan beradaptasi di tengah perkembangan zaman. Rambu Solo' dipelajari sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya yang mencerminkan sistem nilai, struktur sosial, penghormatan kepada leluhur, serta identitas masyarakat Toraja yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, dalam Mata Kuliah Arkeologi, mahasiswa diajak mengamati berbagai tinggalan budaya material yang berkaitan dengan tradisi pemakaman masyarakat Toraja. Pengamatan dilakukan terhadap kompleks pemakaman tradisional, peti jenazah, ukiran khas Toraja, serta bentuk-bentuk arsitektur yang memiliki nilai arkeologis. Melalui observasi tersebut, mahasiswa belajar bagaimana tinggalan budaya dapat dijadikan sumber sejarah untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Pada aspek Kepariwisataan, mahasiswa mengkaji potensi Rambu Solo' sebagai salah satu daya tarik wisata budaya (cultural tourism) yang telah dikenal hingga mancanegara. Mereka melakukan identifikasi mengenai pengelolaan destinasi, peran masyarakat lokal, fasilitas pendukung wisata, serta tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai budaya dengan perkembangan sektor pariwisata. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan warisan budaya secara berkelanjutan.
Selama kegiatan, dosen pendamping memberikan penjelasan mengenai pendekatan ilmiah dalam mengkaji tradisi budaya. Mahasiswa diarahkan untuk mengamati fenomena budaya secara objektif, menghargai nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, serta menghindari penilaian berdasarkan sudut pandang yang bersifat subjektif. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan sejarah, di mana setiap tradisi dipahami dalam konteks sosial, historis, dan budaya masyarakat pendukungnya.
Di sela-sela observasi, mahasiswa juga berdiskusi mengenai proses akulturasi budaya, keberlangsungan tradisi lokal di era modern, serta hubungan antara pelestarian budaya dengan identitas masyarakat. Diskusi tersebut memperkaya wawasan mahasiswa mengenai pentingnya menjaga keberagaman budaya sebagai bagian dari kekayaan peradaban Indonesia.
Kuliah lapangan di Tana Toraja menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan akademik Program Studi Sejarah Peradaban Islam yang berlangsung pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026. Melalui pembelajaran berbasis lapangan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan realitas sosial dan budaya yang ada di masyarakat.
Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi mahasiswa. Kegiatan seperti ini diharapkan mampu membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki pemahaman teoritis yang kuat, tetapi juga memiliki kemampuan penelitian lapangan, kepekaan terhadap keberagaman budaya, serta kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan peradaban bangsa.