Gowa - Sebanyak sepuluh mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar mengikuti Seminar Kebudayaan Sulawesi Selatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Sulapa Eppae (YSE) dalam rangka Program Gerakan Pembelajaran Budaya Bugis. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 20 Juni 2026, bertempat di Mini Hall Gedung Mulo, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Jenderal Sudirman No. 23, Makassar. Seminar ini menjadi bagian dari Program Dana Indonesiana Kategori Dukungan Institusional yang bertujuan memperkuat upaya pemajuan kebudayaan melalui pendidikan dan kolaborasi lintas institusi.
Mahasiswa Program Studi SPI yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Junaidin (40200124024), Wais Al Qarni (40200124002), Ahmad Muhajir (40200124037), Dwi Nadra (40200124027), Nurul Fadillah (40200124025), Aulia Rachmaniar, Riswan (40200124020), Nur Aisyah (40200124006), Fajar (40200124003), dan Abdillah (40200124018). Kehadiran para mahasiswa tersebut merupakan bagian dari penguatan kompetensi akademik di luar ruang kelas, khususnya dalam memahami dinamika pelestarian budaya lokal sebagai salah satu objek penting dalam kajian sejarah dan peradaban Islam di Indonesia.
Seminar dibuka dengan rangkaian acara resmi yang diawali registrasi peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia, serta sambutan sekaligus pembukaan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan pokok-pokok kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mendukung pemajuan kebudayaan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Kegiatan seminar menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Materi pertama disampaikan oleh Dr. H. Ajiep Padindang, S.E., M.M. yang mengulas mengenai Gerakan Pembelajaran Budaya Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa budaya Bugis bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda melalui proses pendidikan yang terencana. Menurutnya, pembelajaran budaya harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan lembaga pendidikan, komunitas budaya, pemerintah, dan masyarakat agar nilai-nilai luhur Bugis tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Selanjutnya, Drs. H. Andi Ahmad Saransi, M.Si. membahas Kontribusi Budaya Sulawesi Selatan dalam Pemajuan Kebudayaan Nasional. Ia menjelaskan bahwa kekayaan budaya Sulawesi Selatan memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas bangsa Indonesia yang majemuk. Berbagai tradisi, nilai sosial, bahasa, sastra, hingga kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, dan etnis lainnya menjadi bagian penting dari khazanah budaya nasional yang harus terus dikembangkan melalui penelitian, dokumentasi, dan pendidikan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Drs. H. Andi Mahrus, M.Si. mengenai Apresiasi Tokoh Penggerak Pemajuan Kebudayaan di Sulawesi Selatan. Ia menyoroti pentingnya memberikan penghargaan kepada individu maupun komunitas yang secara konsisten menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kebudayaan daerah kepada masyarakat luas. Menurutnya, keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada dedikasi para pegiat budaya yang terus bekerja di tengah masyarakat.
Sementara itu, Drs. Eddy Thamrin mengangkat tema Upaya Membangun Kolaborasi Antar Institusi Kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa pelestarian budaya memerlukan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, dan dunia pendidikan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat riset, dokumentasi, publikasi, serta berbagai program edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Darmawati Paruki, S.Pd. yang membahas Menggerakkan Pembelajaran Budaya Bugis pada Sekolah Formal dan Nonformal. Ia menekankan bahwa pendidikan budaya perlu dilakukan sejak dini melalui berbagai metode pembelajaran yang kreatif dan kontekstual sehingga peserta didik tidak hanya mengenal budaya sebagai pengetahuan, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Selain itu, Tim Penyusun SBB Kabupaten Wajo memaparkan Materi Pembelajaran Budaya Bugis di Kabupaten Wajo sebagai salah satu contoh implementasi pendidikan budaya yang telah dikembangkan di tingkat daerah.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdialog langsung dengan para narasumber mengenai berbagai isu aktual terkait pelestarian budaya Bugis di tengah tantangan modernisasi. Forum ini dimanfaatkan oleh peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, untuk memperdalam pemahaman mengenai strategi pemajuan kebudayaan berbasis kolaborasi. Seminar kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua Yayasan Sulapa Eppae setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan.
Keikutsertaan mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam dalam seminar ini mencerminkan komitmen prodi dalam mendorong mahasiswa aktif mengikuti berbagai forum akademik dan kebudayaan di luar kampus. Bagi mahasiswa sejarah, pemahaman terhadap budaya lokal merupakan bagian penting dalam mengkaji dinamika masyarakat, perkembangan peradaban, serta proses historis yang membentuk identitas bangsa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai strategi pelestarian Budaya Bugis, tetapi juga memperluas jejaring akademik dengan para praktisi, budayawan, dan pemerhati kebudayaan. Pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang sejarah, historiografi, dan kajian kebudayaan, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan peradaban Indonesia yang berkelanjutan.