Gowa - Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar kembali mengimplementasikan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan melalui kegiatan kuliah lapangan bagi mahasiswa kelas 4AK3 dan 4AK4. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 9 Juni 2026, dengan mengunjungi dua situs bersejarah di Kabupaten Gowa, yaitu Masjid Tua Katangka dan Kompleks Makam Sultan Hasanuddin.
Kuliah lapangan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran Mata Kuliah Historiografi yang diampu oleh Dra. Nuraeni, M.M. serta Mata Kuliah Arkeologi Islam yang diampu oleh St. Maisyah Nur Ali, S.Hum., M.Hum. Kegiatan tersebut juga didampingi oleh dosen Program Studi SPI lainnya, yakni Dr. H. Lydia Megawati, S.Hum., M.Hum. dan Elza Ramona, S.Hum., M.Hum., yang turut membimbing mahasiswa selama proses observasi dan pengumpulan data di lapangan.
Pelaksanaan kuliah lapangan bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa dalam mengkaji sumber-sumber sejarah dan peninggalan arkeologi Islam. Dengan mengunjungi situs bersejarah, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori yang diperoleh di ruang kuliah dengan realitas lapangan, sekaligus meningkatkan kemampuan analisis terhadap objek-objek sejarah yang menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban Islam di Sulawesi Selatan.
Masjid Tua Katangka dipilih sebagai salah satu lokasi pembelajaran karena merupakan salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam proses penyebaran Islam di Kerajaan Gowa. Bangunan yang didirikan pada awal abad ke-17 tersebut menjadi saksi perkembangan dakwah Islam sekaligus mencerminkan perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam yang berkembang pada masa itu. Melalui pengamatan langsung terhadap arsitektur, struktur bangunan, dan lingkungan sekitar masjid, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami bagaimana peninggalan fisik dapat menjadi sumber penting dalam kajian historiografi dan arkeologi Islam.
Selain mengunjungi Masjid Tua Katangka, rombongan juga melaksanakan observasi di Kompleks Makam Sultan Hasanuddin yang merupakan salah satu situs bersejarah penting di Sulawesi Selatan. Kompleks pemakaman tersebut tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Sultan Hasanuddin, tetapi juga menyimpan berbagai informasi mengenai tradisi pemakaman Islam, perkembangan seni ukir pada batu nisan, serta dinamika politik dan sosial Kerajaan Gowa pada masa lampau.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap bentuk arsitektur makam, inskripsi pada batu nisan, tata ruang kompleks pemakaman, serta berbagai artefak yang masih terpelihara hingga saat ini. Observasi tersebut menjadi bagian dari praktik langsung dalam mata kuliah Arkeologi Islam untuk memahami metode identifikasi, dokumentasi, dan interpretasi tinggalan budaya sebagai sumber sejarah.
Pada saat yang sama, melalui mata kuliah Historiografi, mahasiswa juga diarahkan untuk melihat bagaimana data lapangan dapat dikombinasikan dengan sumber tertulis, tradisi lisan, dan kajian pustaka guna menghasilkan penulisan sejarah yang objektif dan komprehensif. Pendekatan tersebut memberikan pemahaman bahwa historiografi tidak hanya bergantung pada dokumen tertulis, tetapi juga memanfaatkan bukti-bukti material yang masih dapat diamati secara langsung.
Selama kegiatan berlangsung, para dosen pendamping memberikan penjelasan mengenai nilai historis setiap lokasi serta teknik pengumpulan data yang sesuai dengan kaidah penelitian sejarah dan arkeologi. Mahasiswa didorong untuk aktif melakukan observasi, mendokumentasikan temuan, berdiskusi, serta mengajukan pertanyaan terkait objek yang diamati sehingga proses pembelajaran berlangsung secara interaktif.
Dra. Nuraeni, M.M. menjelaskan bahwa kuliah lapangan menjadi bagian penting dalam pembelajaran Historiografi karena mahasiswa dapat memahami secara langsung konteks sejarah dari sumber-sumber yang dipelajari. Menurutnya, pengalaman lapangan akan memperkaya kemampuan mahasiswa dalam menyusun narasi sejarah yang berbasis bukti dan memiliki landasan akademik yang kuat.
Sementara itu, St. Maisyah Nur Ali, S.Hum., M.Hum. menekankan bahwa peninggalan arkeologi Islam merupakan sumber primer yang sangat penting dalam merekonstruksi perkembangan peradaban Islam di Nusantara. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan menginterpretasikan berbagai tinggalan material secara ilmiah agar dapat menghasilkan kajian sejarah yang lebih mendalam.
Kegiatan kuliah lapangan ini sekaligus menjadi bentuk implementasi pembelajaran kontekstual yang diterapkan oleh Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis di dalam kelas, tetapi juga pengalaman empiris yang mendukung pengembangan kompetensi akademik dan profesional di bidang sejarah dan arkeologi.
Dengan terlaksananya kuliah lapangan di Masjid Tua Katangka dan Kompleks Makam Sultan Hasanuddin, diharapkan mahasiswa SPI semakin mampu mengembangkan keterampilan penelitian, memperkuat kemampuan analisis terhadap sumber sejarah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Islam di Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bukti komitmen Program Studi SPI dalam menghadirkan proses pembelajaran yang inovatif, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan ilmu sejarah di era modern.