Lahir pada tahun 1991 di Desa Barania, sebuah sudut kecil di Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai, masa kecil saya dilingkupi oleh alam yang sunyi dan hamparan langit yang maha luas. Di sanalah, sekitar usia sepuluh tahun, sebuah pikiran aneh mulai tumbuh di dalam kepala saya.
Saya masih ingat betul, ketika anak-anak lain sibuk bermain, saya justru sering duduk termenung, menatap ke atas, dan tenggelam dalam rentetan pertanyaan yang melampaui usia saya: Siapa yang memiliki langit ini? Siapa yang mengadakannya? Dan di mana sebenarnya ujung dari kubah biru yang tak bertepi ini?
Setiap kali kebingungan itu memuncak, orang tua kerap membisikkan sebuah kalimat pusaka, sebuah ungkapan tua yang lazim di telinga masyarakat Bugis: Jangan mau terpisah dari Dia, di setiap bangun dan tidurmu! cari tahu nanti maksud dari ini "Tellu Temmalaiseng, Dua Temmassarang." Tiga tak saling meninggalkan, dua tak saling berpisah. Saat itu, kalimat tersebut tak lebih dari sekadar teka-teki magis yang menggantung di kepala. Saya belum tahu, bahwa kalimat itulah yang kelak menjadi kompas spiritual paling krusial dalam hidup saya.
Namun, sebelum cahaya petunjuk itu perlahan muncul, saya harus melewati malam yang teramat pekat. Memasuki usia remaja di bangku SMP hingga SMA, gejolak di dalam diri bermanifestasi menjadi energi yang keliru. Rasa penasaran yang tak terjawab dan pencarian identitas yang buntu membuat saya tumbuh menjadi anak yang pemberontak.
Saya akrab dengan perkelahian. Di sekolah, saya menjadi pengganggu bagi teman-teman dan beberapa kali masuk ruangan BP. Kaki saya hampir saja melangkah terlalu jauh ke dunia premanisme. Puncaknya, hidup menampar saya dengan keras: saya dinyatakan tidak naik ke kelas dua SMA. Sebuah titik nadir yang memukul ego saya, sekaligus meremukkan hati orang tua saya.
Melihat anaknya hampir hancur, orang tua saya mengambil keputusan besar. Memindahkan saya ke Madrasah Aliyah di Desa Gunung Perak.
Di kaki gunung yang dingin itulah, takdir saya berbalik. Di madrasah itu, saya seperti menemukan oasis di tengah gurun. Saya yang awalnya bebal, perlahan melunak saat mulai dibimbing membaca Al-Qur'an. Madrasah tidak hanya memberi saya secercah harapan, tetapi juga menjahit kembali potongan-potongan jiwa saya yang sempat berserakan.
Jiwa pemberontak yang dulunya membara, bertransformasi menjadi "jiwa dakwah" saat saya menginjakkan kaki di bangku perkuliahan S1. Di awal masa kuliah itulah, gairah saya meledak. Saya menceburkan diri dalam kajian dakwah, aktif di organisasi kemasyarakatan berbasis kajian fikih, dan mulai tertarik dengan ilmu agama yang seolah kehausan dan menemukan air yang menyejukkan.
Namun, ketika usia saya menyentuh angka 20-an tepatnya di sekitar tahun 2012, rasa haus yang dulu ada kembali mengetuk pintu batin saya. Kali ini dengan intensitas yang jauh lebih dahsyat.
Kajian fikih dan hukum agama yang formal ternyata belum sepenuhnya memuaskan dahaga batin saya. Setiap kali ada orang yang mulai berbicara tentang hakikat, tentang kedalaman rasa, telinga dan hati saya langsung tegak. Saya mulai berjalan sendiri, mendatangi para tetua, berguru pada orang-orang tua yang menyimpan kearifan sunyi tanah Bugis. Saya kembali mengejar arti dari Tellu Temmalaiseng, Dua Temmassarang yang sempat dititipkan orang tua saya belasan tahun silam.
Kini, setelah perjalanan panjang yang bermula sejak tahun 2012, lembar demi lembar jawaban itu mulai tersingkap.
Saya akhirnya mengerti mengapa saya harus melewati fase menjadi remaja “nakal” sebelum akhirnya berdiri di jalan dakwah dan menyelami hakikat. Semua itu adalah proses pembentukan Tellu Temmalaiseng di dalam diri saya: bahwa Syariat (aturan agama yang saya pelajari di fikih), Tarekat (jalan pembersihan jiwa yang saya rintis sejak di Madrasah), dan Hakikat (kesadaran terdalam tentang Tuhan) tidak boleh dipisahkan. Jika saya hanya memegang hakikat tanpa syariat, saya mungkin akan tersesat menjadi preman berkedok spiritual. Jika saya hanya memegang syariat tanpa hakikat, dakwah saya akan menjadi kering dan kaku.
Dan pertanyaan masa kecil saya tentang "Di mana ujung langit?" akhirnya dijawab dengan indah oleh Dua Temmassarang.
Ujung langit itu tidak berada di angkasa luar yang tak terjangkau. Ujung langit itu melengkung dan bermuara di dalam dada saya sendiri. Antara Sang Khaliq dengan saya, hamba-Nya yang daif, sejatinya temmassarang tidak memiliki jarak. Dia hadir dalam setiap degup jantung saya sebagai peringatan, Dia hadir dalam setiap untaian ayat yang saya baca, dan Dia hadir dalam setiap sujud pasrah saya.
Ternyata, perjalanan sejauh belasan tahun ini bukanlah perjalanan pergi menjauh, melainkan perjalanan pulang ke dalam diri sendiri, untuk menyadari bahwa yang tiga telah menunggal, dan yang dua telah melebur tanpa jarak.
Penulis: Dr. Saenal Abidin, S.I.P., M.Hum.
Editing: Bayu