Ada satu momen dalam hidup ketika kita akhirnya sadar: hidup ini ternyata sama sekali bukan tentang ego kita.
Bukan soal nama besar yang kita kejar, jabatan yang kita banggakan, atau materi yang kita kumpulkan. Bukan juga tentang seberapa banyak pujian yang kita terima dari orang lain. Semua itu semu, datang dan pergi begitu saja seperti awan yang ditiup angin.
Lalu, kalau semuanya fana, untuk apa kita ada di sini?
Kenapa kita harus melewati suka, duka, pertemuan, dan perpisahan?
Jawabannya mulai terbuka saat kita berani melihat ke dalam diri. Semakin dalam kita mengenali diri sendiri, kita akan sampai pada satu kesimpulan: hidup ini adalah perjalanan kesadaran untuk pulang kepada Allah.
Dulu, mungkin kita merasa sebagai tokoh utama. Kita dengan sombongnya berkata: "Ini hasil kerja kerjaku," "Ini karena pemikiranku," atau "Aku sukses karena usahaku." Tapi, begitu tirai keakuan kita perlahan tersingkap, kita mulai melihat realitas yang berbeda.
Kita sadar bahwa napas ini bukan kita yang punya. Jantung ini berdetak tanpa perlu kita perintah. Pikiran dan perasaan datang silih berganti tanpa bisa kita bendung. Bahkan tubuh ini tumbuh tanpa pernah meminta persetujuan kita.
Kalau seluruh alam semesta bergerak tanpa butuh izin kita, lalu siapa yang sebenarnya memegang kendali di balik semua ini?
Di sinilah gerbang makrifat itu terbuka. Kita mulai paham bahwa diri ini hanyalah wadah—tempat di mana pengalaman itu terjadi. Kita bukan sumber kehidupan, bukan pemilik kesadaran, dan bukan pula poros dari keberadaan. Kita hanyalah cermin kecil yang memantulkan keagungan Cahaya-Nya.
Jadi, hidup ini bukan cerita tentang saya, Anda, atau mereka. Hidup ini sepenuhnya adalah cerita tentang Allah.
Melalui alam, Dia tunjukkan kekuasaan-Nya.
Melalui cinta, Dia perlihatkan keindahan-Nya.
Melalui setiap takdir, Dia ajarkan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya.
Semua hal di dunia ini sedang bertasbih dan bicara tentang-Nya. Angin yang berhembus, ombak yang bergulung, matahari yang terbit, bahkan air mata dan tawa kita—semuanya adalah ayat-ayat yang menunjuk kepada-Nya. Tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari skenario dan ilmu-Nya.
Itulah mengapa mereka yang telah wushul (mengenal Allah) tidak lagi sibuk mencari Tuhan di tempat yang jauh. Mereka melihat-Nya di mana-mana. Mereka menemukan jejak kasih sayang-Nya, bahkan dalam balutan peristiwa yang dulunya kita sebut sebagai musibah. Bagi mereka, dunia ini adalah sekolah kesadaran untuk mengembalikan kita ke tempat asal.
Puncak dari kehidupan ini bukanlah tentang menjadi sosok yang besar, kaya, atau dihormati. Puncaknya adalah ketika ego kita melebur, hingga tidak ada lagi yang terlihat di hati kecuali Allah.
Ketika keakuan kita larut dalam keagungan-Nya, di sanalah kedamaian sejati itu lahir. Kita tidak lagi mendebat takdir, tidak lagi protes pada keadaan, karena kita tahu semua ini adalah bagian dari kisah agung yang sedang ditulis oleh-Nya.
Lalu, siapakah kita?
Kita hanyalah sebaris huruf kecil di lembaran semesta. Kita hanyalah riak kecil di samudra eksistensi. Dan ketika semua topeng duniawi kita runtuh, yang tersisa hanyalah keheningan yang bersaksi: "Tidak ada yang benar-benar ada, kecuali Dia."
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang menjadi siapa-siapa, melainkan tentang menyadari Siapa yang selalu hadir di balik setiap helaan napas kita. Perjalanan panjang ini akan selalu bermuara pada satu titik balik:
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun."
Sungguh, hidup ini adalah cara indah Allah memperkenalkan Diri-Nya kepada kita, agar kita belajar mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kelak pulang dengan hati yang tenang dan rida.
Penulis: Dr. Saenal Abidin, S.I.P., M.Hum
Editing: Bayu