Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
Selesai Dengan Diri dan Kesadaran Ekoteologi

Selesai Dengan Diri dan Kesadaran Ekoteologi

Setelah mengikuti kajian menteri agama tentang ekoteologi beberapa waktu yang lalu di masjid kampus 1 UIN Alauddin Makassar,  kajian itu memunculkan semacam "kesadaran ilahi" bahwa apa yang selama ini saya pelajari dan renungi, selaras dengan konsep yang disampaikan oleh Angregurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Dalam pandangan makrifat, “selesai dengan diri” bukan hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengubah cara manusia memandang alam.

Ketika keakuan masih kuat, manusia cenderung melihat dunia sebagai objek. sesuatu yang bisa dimiliki, dikuasai, dan dieksploitasi. Alam dipandang sekadar sumber daya. Gunung adalah tambang, laut adalah komoditas, hutan adalah lahan. Semua diukur dari manfaat bagi “aku”.

Namun ketika seseorang mulai “selesai dengan dirinya”, cara pandang itu perlahan berubah. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, melainkan sebagai bagian dari tatanan yang lebih besar. Ia menyadari bahwa alam bukan miliknya, melainkan amanah dari Allah. Dari kesadaran inilah lahir sikap hormat, bukan eksploitasi.

Di sinilah makrifat bertemu dengan ekoteologi.

Ekoteologi, sebagaimana digagas oleh Menteri Agama, mengajak manusia untuk melihat alam sebagai bagian dari relasi spiritual dengan Tuhan. Merusak alam, bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga bentuk ketidaksadaran spiritual , sebuah kegagalan dalam membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di semesta.

Orang yang telah selesai dengan dirinya tidak akan mudah merusak alam, karena ia tidak lagi digerakkan oleh nafsu memiliki. Ia menanam bukan untuk menguasai, tetapi untuk merawat. Ia mengambil secukupnya, karena ia sadar bahwa yang berlebih bukanlah berkah jika melahirkan kerusakan.

Ia melihat pohon bukan hanya sebagai kayu, tetapi sebagai ayat. Ia melihat air bukan sekadar kebutuhan, tetapi rahmat. Ia melihat bumi sebagai tempat amanah, bukan ladang keserakahan.

Kesadaran ini membuatnya hidup lebih sederhana, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab. Ia tidak lagi berlebihan dalam konsumsi, tidak tergesa dalam mengejar keuntungan, dan tidak abai terhadap dampak dari setiap tindakannya.

Dalam dirinya, tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi menjelma menjadi etika hidup. Ia menjaga alam sebagaimana ia menjaga hubungannya dengan Allah dengan penuh adab, rasa takut, dan cinta.

Maka, “selesai dengan diri” bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kesadaran yang lebih luas: bahwa menjadi hamba Allah berarti juga menjaga ciptaan-Nya.

Sebab pada akhirnya, merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Dan merusaknya adalah tanda bahwa manusia belum benar-benar selesai dengan dirinya.


Penulis: Dr. Saenal Abidin, S.IP., M.Hum.