Ramadan merupakan bulan yang mulia dan penuh dengan berkah. Keberkahan Ramadan pada hakikatnya bukan terletak pada dimensi fisik seperti “keberkahan” para pedagang mendapatkan keuntungan secara ekonomis akibat hadirnya budaya konsumerisme masyarakat, atau keberkahan bagi perusahaan maskapai penerbangan, untuk menaikkan harga tiket, atau keberkahan bagi pakir-miskin, anak panti asuhan dan orang yang tidak berpunya mendapatkan “berkah” tertentu dari sejumlah orang yang memanfaatkan keberkahan ramadan. Akan tetapi, keberkahan Ramadan disebabkan hadirnya malam-malam yang penuh rahmah (kasih sayang), magfirah (ampunan) dan itqun min an-nar (pembebasan dari siksa api neraka) serta turunnya lailat al-qadar; malam yang menurut al-Quran lebih baik dari seribu bulan (Q.S. al-Qadr;1-5).
Hadirnya al-Quran bertujuan untuk mengajak manusia membebaskan diri dari tirani hawa nafsu yang selama ini boleh jadi menjadi “agama baru” di dalam kehidupan. Al-Quran mengajarkan manusia untuk memiliki kesadaran ilahiyah, yaitu sebuah kesadaran akan adanya Tuhan yang maha hadir (omnipresent awareness) yang tidak pernah lengah mengawasi tingkah laku manusia. Kesadaran ini sejatinya menumbuhkan sifat kejujuran, kesabaran, kedisiplinan dan kepekaan sosial.
Turunnya al-Quran (Nuzul al-Quran) 17 Ramadan menjadi suatu starting point bagi manusia kala itu (baca: bangsa Arab) untuk kembali kepada fitrahnya di mana selama ini manusia mulai melupakan perjanjian primordial (al-A’raf: 172) tersebut, dan ia pun terjebak dalam pemujaan dan penyembahan terhadap “tuhan-tuhan” lain selain Allah
Abdullah Darras sebagaimana dikutip Quraish Shihab (1994) menyatakan bahwa jika al-Quran dibaca, maknanya akan jelas di hadapan kita. Tetapi jika kita membacanya sekali lagi, kita akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna-makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai kita dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai arti bermacam-macam, yang semuanya benar atau mungkin benar. Menurut Abdullah Darras, ayat al-Quran bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Tidak mustahil, jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak daripada apa yang kita lihat.
Pernyataan di atas melukiskan bagaimana al-Quran menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang mau mempelajari dan mampu memahaminya (Q.S. 16; 44). Oleh karena itu, bagi Fazlurrahman, al-Quran bukan sebatas kitab bacaan, tetapi ia adalah the speaking words (kalimat yang berbicara) yang mengajak pembacanya untuk berdialog bahkan bertanya-jawab.
Al-Quran bukanlah kitab ilmiyah sebagaimana layaknya persyaratan metodologis sebuah karya ilmiyah, tetapi ia mengandung banyak informasi tentang ilmu pengetahuan dan kebenaran ilmiyah. Dalam kaitan ini Quraish Shihab (1994) menyatakan bahwa membahas hubungan antara al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relativitas, atau ilmu komputer dalam al-Quran, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya? Serta adakah salah satu dari ayat al-Quran bertentangan dengan hasil penemuan ilmiyah yang telah mapan? Di saat masa-masa awal turunnya, banyak orang yang menduga bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang yang gila karena dia melontarkan sejumlah teori atau postulat yang sangat bertentangan dengan logika manusia pada saat itu. Namun perlahan tapi pasti, sejumlah keterangan yang pernah disampaikan Muhammad saw berkaitan dengan sejumlah fenomena kehidupan tersebut sedikit demi sedikit terungkap seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.