Menggali Makna dalam Kesenyapan

  • 04:41 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Hari ini saya memilih untuk tidak menulis komentar di beberapa grup WhatsApp, bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, apalagi dikomentari. Tapi saya mencoba melakukan uzlah digital sebagaimana yang saya tulis di beberapa edisi sebelumnya. Uzlah digital saya batasi hingga pukul 16.30.

Saya diam sesaat, merenungi bagaimana Nabi Muhamad pada makan malam ke 17 Ramadhan menerima wahyu. Saya merenung bagaimana situasi di saat Wahyu diturunkan, karena yang saya tahu selama ini hanya dari cerita yang tertulis di buku atau disampaikan lewat cerita.

Saya melakukan perenungan dan uzlah sesaat karena ada saatnya diam lebih bermakna daripada kata-kata. Dalam kesenyapan, saya menemukan ruang untuk berkontemplasi, untuk merenungkan bukan hanya apa yang terjadi di sekitar, tetapi juga apa yang sedang berbicara di dalam diri.

Kesenyapan ini bukan sekadar keheningan biasa, tetapi sebuah kesenyapan ontologis, kondisi di mana eksistensi terasa lebih mendalam, lebih esensial, dan lebih jernih. Dalam tradisi filsafat dan tasawuf, kesenyapan sering kali menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih tinggi. Jika dikaitkan dengan konsep tadbir al-mutawwahid—tadbir seorang yang memilih jalan kesendirian dalam pencarian makna—kesenyapan ini menjadi semacam jeda spiritual, tempat di mana diri bisa kembali menyatu dengan hakikat yang lebih luas.

Mutawwahid bukan hanya sekadar seseorang yang menyendiri secara fisik, tetapi ia adalah pencari yang menempuh jalan sunyi untuk merasakan kehadiran Tuhan dengan lebih intens. Tadbir dalam konteks ini bukan hanya lafaz, tetapi sebuah pengakuan eksistensial bahwa segala sesuatu kembali kepada-Nya. Dalam kesunyian ini, ada ruang bagi diri untuk larut dalam refleksi dan pemurnian, membebaskan diri dari hiruk-pikuk dunia, dan menemukan ketenangan yang hakiki.

Dalam renungan hari ini, bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya berhenti sesat mengutak-atik WA yang biasa sering saya baca bahkan saya beri komentar

Hari ini menggantinya dengan aktivitas lain yang dapat menambah perbendaharaan pengetahuan.

Sungguminasa 16 Ramadhan 1446 H