Kesalehan Meta-Etis; Apakah Kesombongan Numerik?

  • 03:09 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Dalam etika meta-etis, aksiologi berfokus pada nilai dan makna di balik suatu tindakan. Dalam konteks beragama, kesalehan meta-etis bukan hanya tentang seberapa sering seseorang beribadah, tetapi lebih kepada bagaimana ibadah itu memberi makna dan nilai bagi diri sendiri serta orang lain. Kesalehan sejati tidak hanya diukur dari kuantitas ibadah, melainkan dari dampak spiritual dan moralnya.

Namun, dalam era digital, muncul fenomena kesalehan numerik, di mana seseorang lebih menonjolkan jumlah ibadah daripada nilai dan maknanya.

Kesalehan meta-etis, yaitu kesalehan aksologis yang berfokus pada nilai dan makna di balik suatu tindakan. Dalam konteks beragama, kesalehan meta-etis bukan hanya tentang seberapa sering seseorang beribadah, tetapi lebih kepada bagaimana ibadah itu memberi makna dan nilai bagi diri sendiri serta orang lain. Kesalehan sejati tidak hanya diukur dari kuantitas ibadah, melainkan dari dampak spiritual dan moralnya.

Hanya saja kesalehan meta-etis bisa bermetamorfosis menjadi kesombongan numerik, jika seseorang tidak dapat mengendalikan hasrat untuk selalu dikenal sebagai ahli ibadah dan ingin mendapatkan validasi dan pengakuan sosial.

Seseorang memposting di WA Group pukul 02.30 dini hari. Dia menulis....Alhamdulillah sudah 4 rakaat, atau di bulan Ramadhan dia menulis.. Alhamdulillah sudah 2 kali khatam Qur'an. Fenomena ini merupakan bentuk kesalehan meta-etis atas sebuah capaian ibadah yang dinyatakan secara eksplisit, untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Secara teknis perbuatan ini belum bisa dijustifikasi sebagai riya, sebab tidak ada seorangpun yang tahu secara pasti kecuali dirinya dan Tuhan, apa maksud atau niatnya mengupload. Manusia hanya sekadar menilainya yang kemudian diistilahkan sebagai kesombongan numerik.

Dari perspektif aksiologi, ibadah seharusnya memberi nilai yang lebih mendalam, bukan sekadar menjadi angka yang dipamerkan. Rasulullah saw mengajarkan untuk menyembunyikan amalan sunnah agar tetap terjaga dari sifat riya dan ujub. Dalam Islam, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas.

Pernah suatu hari saya menanya teman yang menulis statusnya di WA tentang aktivitas shalat tahajjudnya. Dia bilang, "saya tidak riya, saya hanya ingin memberi motivasi dan mengajak nitizen lain untuk melakukan hal yang sama. Semoga ini dapat menjadi dakwah".

Wallahu a'lam

Sungguminasa 15 Ramadan 1446 H