Lukisan Nabi dan Artificial Intelegent

  • 12:30 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Pernah melihat di media sosial mantan presiden RI Soeharto berbicara, padahal beliau sudah wafat. Atau pernah melihat seorang tokoh berbicara padahal yang bersangkutan tidak pernah bicara. Itulah teknologi Artificial Intelegent yang hadir di era disrupsi digital saat ini. Banyak orang yang terperdaya dan meyakini bahwa apa yang dilihatnya sebagai sebuah kebenaran.

Saat kecil saya pernah bertanya kenapa tidak ada gambar/photo atau lukisan Nabi Muhammad saw. Guru-guru saya hanya menjawab secara normatif;  Itu dilarang, atau pada masa itu memang tidak ada camera.

Larangan melukis wajah Nabi Muhammad SAW telah menjadi kesepakatan ulama Islam yang dihormati selama berabad-abad. Salah satu hikmahnya adalah untuk mencegah pengultusan yang berlebihan terhadap sosok Nabi hingga menjurus ke arah penyembahan. 

Namun, dalam era disrupsi digital saat ini, larangan ini semakin terasa relevansinya, terutama dengan kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mampu menghidupkan kembali sosok-sosok yang telah wafat melalui manipulasi gambar dan suara.

Di era digital yang spektakuler ini, AI telah berkembang hingga mampu menghidupkan kembali figur-figur sejarah dalam bentuk video yang tampak realistis, termasuk rekayasa suara. Jika ada lukisan Nabi Muhammad saw yang tersimpan, bisa dibayangkan bagaimana teknologi ini dapat digunakan untuk membuat seolah-olah Nabi saw berbicara atau bahkan memberikan "pesan baru" yang mungkin menyimpang dari ajaran Islam. Ini tentu berbahaya karena dapat menyesatkan umat dengan informasi yang dipalsukan.

Karena itu, tanpa visualisasi wajah Nabi, umat Islam diajarkan untuk mengenal dan meneladani beliau melalui riwayat hadits dan sirah. Ini membantu menjaga kemurnian ajaran tanpa terganggu oleh interpretasi visual yang subjektif. Sebaliknya, jika ada representasi visual, setiap individu atau kelompok bisa menggambarkan Nabi dengan cara yang berbeda sesuai dengan perspektif mereka, yang bisa menimbulkan perpecahan dan distorsi dalam memahami Islam. Itu sebab larangan menggambar wajah Nabi Muhammad saw bukan hanya sekadar aturan tanpa alasan, tetapi memiliki hikmah yang semakin terasa di era digital. Di tengah kemajuan teknologi AI yang mampu merekayasa gambar dan suara, absennya citra visual Nabi justru menjadi perlindungan bagi kesucian ajaran Islam. Tanpa gambar, tidak ada peluang bagi siapapun untuk memanfaatkan teknologi demi menyajikan citra palsu Nabi, yang bisa membingungkan atau bahkan menyesatkan umat. Oleh karena itu, memahami hikmah ini semakin penting agar kita tetap berpegang teguh pada esensi ajaran Islam yang murni dan otentik.

Sungguminasa 24 Ramadan 1446 H