Sunyi dalam Keramaian dan Ramai dalam Kesunyian

  • 04:19 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Dalam kehidupan postmodern yang serba cepat, penuh hiruk-pikuk, dan bergelimang materi, banyak orang justru merasa kosong. Mereka hidup dalam keramaian, tetapi hatinya sunyi—terasing dari makna sejati kehidupan. Sebaliknya, ada mereka yang memilih kesendirian, tetapi justru merasakan ketenangan yang dalam, karena batinnya selalu dipenuhi dengan kehadiran Ilahi.

Fenomena ini dalam sufisme dikenal sebagai "ghuraba"—orang-orang asing yang tetap menjaga cahaya spiritual di tengah dunia yang gelap. Dalam kajian tasawuf, kedua kondisi ini mencerminkan keadaan batin seseorang dalam hubungannya dengan Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan dunia sebagai tempat ujian. Bagi mereka yang terlalu terikat pada dunia dan lupa kepada Allah, dunia akan terasa sunyi meskipun penuh dengan kesenangan lahiriah. Ini adalah kesunyian batin di tengah keramaian dunia.

Jalaluddin Rumi menulis menulis 

"Manusia berlarian mencari kebahagiaan di luar dirinya, padahal kebahagiaan sejati ada di dalam hati yang mengenal Tuhannya."

Mereka yang mengalami sunyi dalam keramaian adalah orang-orang yang dikelilingi harta, jabatan, dan status sosial, tetapi tetap merasa hampa. Mereka kehilangan dzauq—rasa manis dalam beribadah dan mengingat Allah. Kesunyian ini bukanlah ketenangan, melainkan keterasingan dari fitrah spiritualnya.

Sebaliknya, orang-orang yang hidup dalam kesunyian tetapi merasa ramai adalah mereka yang hatinya dipenuhi dengan dzikir dan kesadaran ilahi. Ini adalah kesunyian fisik tetapi kelimpahan spiritual.

Para sufi sering melakukan uzlah, menyepi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mereka tidak merasa sendiri, karena batin mereka selalu "ramai" dengan kehadiran Allah.

Kesunyian yang diisi dengan muraqabah (kesadaran akan Allah), mahabbah (cinta Ilahi), dan ma'rifah (pengenalan terhadap Allah) akan membawa seseorang kepada ketenangan hakiki. Ini seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ saat bertafakur di Gua Hira, atau para sufi seperti Rabiah Al-Adawiyah yang dalam kesendiriannya justru tenggelam dalam lautan cinta Ilahi.

Dalam sufisme, keseimbangan antara dunia dan spiritualitas sangat penting. Seorang sufi sejati bisa hidup di tengah keramaian tanpa kehilangan jiwanya, dan bisa berada dalam kesunyian tanpa merasa terasing.

Maka, bagi siapa saja yang merasa sunyi dalam keramaian, kembalilah kepada dzikir dan tafakur. Dan bagi mereka yang memilih kesunyian, pastikan hati tetap ramai dengan cinta dan kehadiran Allah.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukanlah di mana kita berada, tetapi dengan siapa hati kita terhubung.

Sungguminasa 22 Ramadhan 1446 H.