Sebagian orang menebak-nebak datangnya Lailatul Qadar, sebagian lain tidak peduli; Tidak peduli tentang tanggal atau malamnya karena dia sudah siap sejak malam pertama hingga terakhir Ramadhan. Tidak peduli karena ada yang memang jarang tarawih atau tidak sama sekali.
Terlepas dari waktu datangnya, yang pasti di antara deretan malam Ramadan yang penuh berkah, Lailat al-Qadr menjulang sebagai misteri yang terus menggoda pencarian manusia. Bukan sekadar peristiwa langit yang menggetarkan, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang menuntut keikhlasan dalam pencarian. Namun, benarkah Lailat al-Qadr hanya bisa direngkuh oleh mereka yang mencapai kesadaran infinitum atau berada dalam pusaran kontemplasi yang tinggi?
Sederhananya, Lailat al-Qadr bukan tentang pencapaian spiritual elite, tetapi tentang bagaimana setiap insan berusaha mendekat kepada Tuhan dengan caranya masing-masing. Dalam Islam, keagungan suatu malam tidak bergantung pada seberapa dalam seseorang membahasnya dengan terminologi filsafat, melainkan pada bagaimana ia menghayatinya dengan hati yang tulus.
Ramadan bukan hanya tentang latihan ruhani menuju pengalaman metaempirik yang sulit diraih banyak orang. Ia juga tentang kesadaran sederhana: berpuasa untuk memahami rasa lapar orang lain, berbagi untuk merasakan kebahagiaan memberi, serta beribadah dalam diam tanpa perlu meromantisasi spiritualitas dengan bahasa yang sulit dipahami. Bukankah Islam datang dengan bahasa yang sederhana namun bermakna?
Lailat al-Qadr, yang dijanjikan lebih baik dari seribu bulan, adalah malam kemuliaan yang bisa hadir bagi siapa saja yang hatinya terbuka. Mungkin ia datang kepada seorang ibu yang lelah namun tetap melantunkan doa di sela pekerjaannya, kepada seorang fakir yang berzikir dalam kesunyian trotoar, atau kepada seorang anak yang baru belajar menghafal surah-surah pendek.
Keistimewaan malam ini tidak tergantung pada seberapa tinggi kapasitas intelektual kita untuk menguraikannya dalam konsep-konsep ontologis. Ia adalah rahmat, yang justru lebih sering ditemukan dalam kesederhanaan daripada dalam diskursus teoretis yang kompleks. Nabi Muhammad tidak pernah mensyaratkan pengalaman direct experience tingkat tinggi untuk meraih Laylat al-Qadr. Sebaliknya, beliau mengajarkan kita doa yang sangat sederhana:
"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka ampunilah aku).
Lailat al-Qadr adalah tentang hati yang berserah, bukan tentang wacana tinggi yang hanya bisa diakses segelintir orang. Jika malam ini adalah malam yang penuh cahaya, maka ia adalah cahaya yang dapat menyentuh siapa saja—baik mereka yang menyelaminya dalam renungan panjang, maupun mereka yang menemukannya dalam sujud yang penuh keikhlasan.
Sungguminasa 20 Ramadan 1446 H