Beberapa waktu lalu, sSeorang teman mengajak saya untuk pergi umrah. Lantas saya menanyakan apa motivisanya untuk umrah. Dia menjawab untuk memburu Lailat al-Qadar. Ada program Umrah Lailatul Qadr. Apa yang diinginkan teman saya itu tidak salah, dia memiliki niat untuk beribadah di tanah suci sekaligus ingin mendapatkan ”malam berkah itu” tempat yang suci. Tidak peduli dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Tujuannya hanya satu; memburu malam Lailatul Qadr di Tanah Suci yang tentunya kemuliaannya sangat luar biasa dibanding beribadah di tanah air.
Menurut Quraish Shihab, lailat al-qadar memiliki kemuliaan karena tiga hal. Pertama, di malam itu Allah menetapkan perjalanan hidup manusia baik sebagai individu maupun kelompok. Kedua, di malam itu al-Quran juga diturunkan sebagai titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga, malam itu malaikat memenuhi bumi, sehingga bumi seakan menjadi sempit, mereka datang membawa kedamaian.
Ketiga makna di atas menurut Quraish Shihab pada hakikatnya dapat menjadi benar karena malam tersebut adalah malam kemuliaan yang bila didapat maka Allah akan menetapkan masa depan manusia dengan penuh kemuliaan, dan kedamaian. Bagi mereka yang mendapat lailat al-qadar, bisikan halus dari malaikat akan senantiasa menghiasi kehidupan pribadinya, sehingga bisikan setan tidak mampu menyelinap di dalam relung-relung jiwanya. Atas dasar ini, masyarakat berlomba-lomba mengejar malam lailatul qadr dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di malam-malam ganjil, yaitu mulai malam 17, 19, 21 dan seterusnya. Ada pula yang menyatakan mulai malam ke 21 dan seterusnya.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah setiap orang yang memburu malam lailat al-qadar tanpa bekal spiritual yang memadai pasti mendapatkannya? Untuk diketahui bahwa semua ritualitas ibadah yang diajarkan Rasulullah saw berujung pada pembentukan karakter mulia sebagai esensi dari akhlak al-karimah. Dengan demikian, seberapa pun jumlah (kuantitas) pahala yang dijanjikan Allah kepada seorang hamba yang beribadah (ritual), akan selalu dikali (sebagai ukuran) dengan nilai akhlak yang tercermin dalam kehidupannya. Artinya jika pahala ibadahnya seratus ribu, tetapi akhlaknya dinilai Tuhan nol (0), maka bisa jadi 100.000 x 0 = 0.
Saya sendiri berpandangan bahwa Lailatul Qadr itu ada dimana-mana. Kedatangannya cukup ditunggu dengan “kesenyapan” tanpa harus diburu. Ia merupakan tamu agung yang memang tidak semua orang dapat dikunjungi, akan tetapi dia pasti akan datang kepada orang-orang yang telah mempersiapkan diri akan kehadirannya sejak awal Ramadan hingga akhir. Itulah sebabanya informasi hadis menyebut turunnya di pertengahan, sebab jiwa manusia yang puasa dengan keimanan telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan hadir menemuinya.
Bagi orang-orang yang telah mempersiapkan diri dan membersihkan jiwanya, cukup baginya menunggu kedatangannya di manapun dia berada, sebab lailat al-qadar akan mengunjungi mereka yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri, bukan sebuah persiapan instan
Sungguminasa 18 Ramadhan 1446 H