Tarawih Beragam; Biarkan Tuhan yang Menilai

  • 12:33 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Saya menyaksikan beberapa tayangan pelaksanaan tarawih di televisi dan platform media sosial. Ada  pelaksanaan tarawih 20 rakaat hanya memakan waktu 10 menit.  Ada pula shalat tarawih 30 juz bacaan al-Quran dengan waktu 8 jam. Saya belum bisa membayangkan seberapa cepat mereka membaca Alquran. Karena saya sendiri jika membaca al-Qur'an memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk satu juz. Artinya saya butuh waktu 15 jam untuk menghabiskan isi Alquran. 

Dari sisi rakaat, di Indonesia umumnya menggunakan pola 8 + 3 dan 20 + 3. Di Arab Saudi, pola 20+3 sudah menjadi ritual yang berkepanjangan sebagimana pola di Indonesia, namun menariknya di pemerintahan Muhammad bin Salman ini, Saudi melakukan perubahan ritual tarawih dari 20+3 menjadi 10+3. 

Ibadah tarawih menjadi salah satu ritual khas yang hanya hadir di bulan Ramadan. Ritual ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memperlihatkan keragaman budaya dan praktik keberagamaan di masyarakat Muslim. Ulasan di awal tulisan ini menggambarkan variasi dalam pelaksanaan salat tarawih, baik dari segi jumlah rakaat maupun durasi pelaksanaannya, yang menjadi fenomena menarik untuk dikaji.

Perbedaan ini mencerminkan keluasan pemahaman dan implementasi fikih yang berkembang di kalangan umat Islam.

Variasi dalam pola tarawih ini menjadi cerminan dinamika sosial dan keberagaman pemahaman masyarakat terhadap agama. Tarawih kilat yang hanya berlangsung 10 menit seringkali menjadi pilihan bagi jamaah yang sibuk atau ingin cepat menyelesaikan ibadah. Sementara itu, tarawih dengan bacaan panjang menjadi pilihan bagi mereka yang mendambakan kekhusyukan dan kedalaman spiritual.

Fenomena tarawih yang ragam ini mengajarkan pentingnya sikap toleransi dalam menyikapi perbedaan. Selama pelaksanaan ibadah tetap memenuhi syarat dan rukun salat, keragaman tersebut seharusnya disambut sebagai kekayaan tradisi keagamaan, bukan sebagai bahan perpecahan.

Keberagaman bukanlah penghalang persatuan, melainkan bukti bahwa Islam adalah agama yang memelihara harmoni di tengah perbedaan. Ritual Warna-warni menjadi simbol bagaimana tradisi ibadah dapat berjalan selaras dengan dinamika masyarakat tanpa kehilangan esensi spiritualnya.

Karena itu tidak perlu saling menyalahkan, mengejek yang berbeda, dan mengklaim kebenaran tunggal. 

Biarlah Tuhan yang menimbang setiap amal, sebab mata manusia hanya mampu melihat permukaan, sementara hati dan niat tersembunyi dalam genggaman-Nya.

Sungguminasa 7 Ramadhan 1446 H