Di hari ketiga bulan Ramadan saya berjalan-jalan ke wilayah mappanyukki. Tujuannya adalah untuk berburu takjil sebagai persiapan buka puasa, dan juga untuk keperluan sahur.
Ada suasana psikologis dan spiritualitas yang hadir di dalam ruang yang bernama Pasar Ramadhan. Para pedagang dengan penuh antusias dan penuh harap memanggil-manggil para pengunjung untuk berbelanja di counternya. Saya lihat begitu banyak menu makanan yang disajikan. Terbesit di benak saya, apa mereka memperoleh keuntungan.
Beberapa pedagang saya coba interview. Di antara mereka ada menyampaikan bahwa mereka sudah bertahun-tahun berjualan dan Alhamdulillah meraih keuntungan yang lumayan.
Ada hal yang menarik di saat ditanyakan kepada mereka, apa yang paling mengesankan apakah keuntungan atau suasana. Umumnya mereka mengatakan bahwa mereka mendapatkan suasana spiritualitas dan kebahagiaan karena dapat melayani masyarakat yang datang. Terasa kebersamaan yang mengikat di antara sesama muslim ataupun masyarakat pada umumnya.
Ramadhan selalu membawa nuansa kebersamaan yang hangat, salah satunya melalui tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka. Kegiatan ini bukan sekadar mencari makanan pembuka, tetapi menjadi momen yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana penuh keakraban.
Lebih dari sekadar urusan perut, berburu takjil menciptakan harmoni sosial. Pedagang kecil mendapat berkah rezeki, sementara pembeli menikmati hidangan yang mempererat hubungan kekeluargaan. Suasana saling sapa, antre dengan sabar, hingga berbagi makanan menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan kebersamaan dan kepedulian.
Tradisi ini mengingatkan bahwa berburu takjil bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang bagaimana kebersamaan dan solidaritas terus hidup di tengah masyarakat. Inilah harmoni yang menjadikan Ramadhan begitu istimewa setiap tahunnya.
Sungguminasa 5 Ramadan 1446 H