Di hari kedua Ramadhan ini, sembari duduk di kursi, saya membaca coretan Aksa al-Bimawi, dosen prodi Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora. Dia adalah dosen yang sangat kreatif dalam menelorkan karya akademik. Ulasan yang dimuat di media Donggonews.com ini terkait ibadah puasa. Uniknya meski dia seorang pakar sejarah, namun berhasil menyajikan perspekfif puasa dalam koridor filsafat (filosofis)
Dia menawarkan pandangan mendalam tentang eksistensi manusia dalam Islam, bahwa keberadaan manusia tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual yang harus terus disempurnakan. Penulis menggunakan pendekatan ontologis dengan merujuk pada QS. Adz-Dzariyat [51]: 56, yang menegaskan bahwa tujuan hakiki penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Perspektif ini memperlihatkan bahwa eksistensi manusia tidaklah nihilistik, melainkan sarat dengan makna dan tujuan. Ramadan harus dijadikan instrumen bagi manusia untuk menyelami dimensi spiritual. Puasa, sebagai ibadah sentral di bulan Ramadan, menjadi sarana untuk menanggalkan distraksi duniawi yang sering kali membelenggu manusia pada aspek material. Hal ini sejalan dengan konsep tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa yang bertujuan mendekatkan manusia pada esensi keberadaannya.
Meski coretan ini berhasil membangun argumentasi filosofis yang kuat, terdapat aspek yang perlu diperkuat, yakni penjelasan mengenai bagaimana transformasi spiritual ini berdampak pada perilaku sosial. Keterhubungan antara penyempurnaan spiritual individu dengan kontribusi terhadap masyarakat perlu lebih diartikulasikan, mengingat dalam Islam, kesalehan individual harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Selain itu, eksplorasi tentang tantangan modern yang dapat menghambat proses penyucian jiwa, seperti budaya konsumtif dan digitalisasi, akan menambah relevansi narasi ini dalam konteks kekinian.
Ulasan ini juga menarik karena mampu menghubungkan puasa dengan filsafat sosial, di mana ibadah berjamaah seperti tarawih dan iftar memperkuat kesadaran kolektif dalam membangun solidaritas dan kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang memperkuat hubungan antar umat. Konsep ukhuwah Islamiyah menjadi relevan dalam konteks masyarakat modern yang cenderung individualistik, sehingga Ramadan menjadi ruang penting bagi pembentukan identitas kolektif. Tantangan yang sering muncul adalah bagaimana mempertahankan semangat solidaritas dan pengendalian diri di luar bulan Ramadan.
Di era disrupsi digital ini, manusia mengalami trend alineasi dari Tuhan. Mereka hanya takjub kepada bintang dan rembulan, tetapi tidak takjub kepada Pencipta rembulan dan bintang. Hanya cinta dan senang kepada pantai yang luas, tetapi tidak cinta kepada Pencipta pantai yang terbentang luas. Manusia hanya takut kepada gunung yang bergoncang, tetapi tidak takut kepada Zat yang menggoncang gunung. Mereka takut kepada air tsunami yang menerjang, tetapi tidak pernah takut kepada Zat yang mendatangkan air tsunami. Inilah sikap hidup manusia hidonisme yang menganggap hidup ini hanyalah ”kekinian dan kedisinian”. Karena itu Ramadan senantiasa hadir untuk mengingatkan manusia akan hakikat jati dirinya dan mengembalikannya kepada fitrah semula.
Ramadan merupakan momentum sakral yang membawa manusia pada perjalanan spiritual dari eksistensi fisik menuju esensi keberadaan. Dalam perspektif ontologis, Ramadan mengajak manusia untuk menanggalkan aspek fisikalitas semata dan menyelami hakikat keberadaan yang lebih dalam. Keberadaan ini menuntut manusia untuk mencari makna hidup yang lebih tinggi, yakni mendekatkan diri kepada Tuhan. Ramadan menjadi instrumen yang memungkinkan manusia merenungkan tujuan keberadaannya, menjadikan ibadah puasa sebagai sarana introspeksi diri dan peningkatan kualitas spiritual.
Perjalanan spirijltual selama Ramadan membawa manusia dari sekadar keberadaan fisik menuju pemahaman esensial tentang dirinya sebagai hamba Allah. Konsep takwa yang menjadi tujuan puasa (QS. Al-Baqarah [2]: 183) mencerminkan transformasi eksistensial menjadi kesadaran ruhaniah yang lebih mendalam. Melalui proses ini, manusia diharapkan mampu menempatkan nilai-nilai ketuhanan di atas dorongan materialisme dan hedonisme.
Tantangan terbesar terletak pada bagaimana mempertahankan transformasi ini di luar Ramadan, sehingga nilai-nilai esensial yang diperoleh menjadi karakter alam bawah sadar (permanen) dalam kehidupan sehari-hari.
Sungguminasa 2 Ramadhan 1446 H