Pagi-pagi saya membuka Tik-tok dan menemukan akun seorang yang menayangkan semangat jemaah masjid yang menggebu-gebu menunggu untuk shalat Tarawih seraya menunggu pengumuman resmi pemerintah.
Fenomena seperti ini menjadi hal biasa mengingat Ramadan baru tiba. Ibarat bayi yang dirindukan lahirnya, dia ditunggu berbulan-bulan, dipersiapkan dan disambut kelahirannya.
Hari-hari awal Ramadan memang selalu menghadirkan pemandangan yang begitu menyejukkan. Masjid-masjid penuh sesak dengan jamaah yang antusias menjalankan salat tarawih, membaca Al-Qur'an, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan. Suasana malam-malam 10 pertama Ramadan terasa berbeda—ada semangat baru yang mengalir di hati setiap Muslim, seolah ingin memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya.
Di sejumlah masjid, besar maupun kecil, saf-saf salat terisi hingga kadang meluber ke halaman. Jamaah datang dari berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, semuanya ingin meraih berkah di awal bulan penuh ampunan ini. Para dai menyampaikan tausiyah dengan penuh semangat, mengingatkan akan keutamaan Ramadan dan betapa besarnya pahala bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Namun, satu fenomena yang selalu terjadi setiap tahun adalah menurunnya jumlah jamaah di masjid menjelang akhir Ramadan. Jika di awal bulan saf-saf masih rapat dan melimpah hingga ke luar masjid, maka di sepuluh hari terakhir sering kali jumlah jamaah menyusut drastis. Hanya segelintir orang yang tetap istiqamah mencari lailatul qadar, sementara sebagian besar mulai kehilangan semangat. Ada yang berseloroh…di akhir Ramadan, umumnya Masyarakat membayar zakat “Mall” bukan mal (harta)
Fenomena ini tentu menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Mengapa semangat yang begitu membara di awal bulan tidak bisa dipertahankan hingga akhir? Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melatih diri dalam konsistensi ibadah, bukan hanya sekadar euforia di awal. Justru di sepuluh hari terakhir itulah peluang terbesar mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Menjawab fenomena tersebut, saya teringat dengan perlombaan lari Maraton yang biasanya diikuti oleh ribuan peserta. Awalnya semua peserta bersemangat dan merasa kuat, namun perlahan perserta satu-persatu mundur, tidak melanjutkan perlombaan. Hanya yang kuat dan memiliki semangat yang dapat mencapaiu finish dengan baik.
Dari analogi ini Maraton ini, saya akhirnya paham mengapa Allah memulai perintah puasa bukan dengan fiil amar (perintah langsung), tetapi melalui perintah pasif (kutiba alaikum/diwajibkan atasmu). Perintah seperti ini memberikan gambaran bahwa puasa itu sesungguhnya untuk kebutuhan yang mengerjakan agar supaya sehat baik lahir maupun batin. Puasa mengajarkan manusia untuk memiliki sefl-controlling sehingga terhindar dari status atau predikat kebinatangan.
Maka dari itu, mari kita jadikan Ramadan ini berbeda. Jangan hanya semangat di awal, tetapi bertahan hingga akhir. Jadikan ibadah kita bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hakikat Ramadan bukan hanya tentang bagaimana kita memulainya, tetapi bagaimana kita mengakhirinya dengan kemenangan. Semoga judul tulisan di atas bukan tetuju kepada kita.
Sungguminasa, 1 Maret 2025