KEKUATAN LITERASI DI MASA PANDEMI

  • 01:01 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Istilah literasi tentu  sudah tidak asing lagi kita dengar, apalagi diera masyarakat informasi saat ini sudah menjadi hal yang penting dimiliki setiap orang untuk meningkatkan kualitas diri dalam hal pengembangan kompetensi pengetahuan. Apalagi kita sekarang memasuki era persaingan dimana orang yang memiliki pengetahuan, kecerdasan dan daya nalar kritis yang baiklah yang dianggap mampu memberikan kontribusi terhadap lembaga institusi maupun bangsa dan negara ini. Nah, tentu kita ketahui bersama bahwa semua hal tentang pengetahuan, kecerdasan dan daya nalar kritis yang baik itu kita dapatkan dari kemampuan literasi yang baik pula.

Kekuatan literasi tentunya sudah tidak diragukan lagi, kita bisa lihat kebangkitan negara Jepang menjadi negara yang sangat maju meskipun sempat negara tersembut hancur di masa penjajahan perang dunia ke II akibat bom atom, tapi negara Jepang bangkit dengan memulai penanaman budaya literasi. Sehingga 30 tahun kemudian Jepang mampu menjadi negara yang memiliki kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi di dunia dan tentu ini tidak terlepas dari budaya literasi yang mereka tanamkan. Apalagi dalam ajaran Islam pun kita diperintahkan untuk membaca. Membaca dan menulis merupakan bagian dari budaya literasi namun tidak sesederhana itu, literasi bukan hanya soal baca tulis tapi bagaimana kita mempunyai daya nalar kritis dalam memahami suatu fenomena dalam kehidupan kita saat ini.

Sudah kurang lebih 8 bulan negara kita dan dunia tentunya merasakan efek dari wabah ini, wabah yang menjadi sorotan media setiap harinya, baik di media elektronik, media cetak dan media sosial. Informasi tentang wabah ini tersebar sangat cepat, bahkan ribuan artikel muncul  membahas wabah covid-19 ini di media. Tidak hanya artikel, ratusan riset penelitian dan buku pun bermunculan dari para akademisi untuk memberikan pemahaman tentang wabah ini kepada masyarakat sebagai bentuk pengabdian.

Pertanyaannya, apakah informasi dalam artikel-artikel tersebut bisa dijamin kebenarannya ?, jawabannya tentu tidak. Sejak wabah ini khusus di media sosial tentu kita mendapatkan banyak informasi dari artikel tentang wabah covid-19, baik dari grup keluarga maupun dari beranda akun media sosial kita sendiri. Bulan Agustus kemarin Kominfo mencatat lebih dari seribu berita hoaks yang telah dideteksi, tentu data ini terus bertambah apalagi adanya isu-isu ditemukannya vaksin yang dapat membuat para penyebar  isu hoaks berlomba lomba membuat berita yang belum tentu benarnya, sehingga dapat memancing reaksi masyarakat apabila tidak memiliki budaya literasi yang baik.

Nah, diera informasi yang begitu pesat dan dibarengi dengan masa pandemi ini, maka muncullah isu-isu hoaks yang bertebaran dimana-mana, maka tentu pentingnya kemampuan literasi ini menjadi sebuah kekuatan untuk menangkal informasi-informasi yang tidak benar, sehingga informasi tersebut tidak meresahkan atau membuat orang takut akan kebohongannya. Kemampuan literasi tentunya juga dapat memberikan kita pemahaman yang baik sehingga kita tidak mudah percaya dengan apa yang dituliskan dalam artikel-artikel, mengecek dan menyaring informasi tersebut terlebih dahulu adalah cara yang benar dilakukan, sebelum informasi tersebut kita bagikan.

“Saring sebelum Sharing” atau teleti sebelum membagikan adalah bagian dari literasi, nalar kritis dalam memahami sebuah bacaan atau tulisan juga kunci dalam melawan isu-isu hoaks di masa pandemi ini, sebagaimana dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 6 pun kita diperintahkan dalam selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi. Kemampuan literasi dimasa pandemi ini merupakan kekuatan besar dalam memahami informasi ditengah ledakan isu-isu hoaks yang begitu pesat, maka sangat penting kita miliki kekuatan literasi siapapun dan berapapun usia yang kita miliki, karena kemampuan ini adalah kemampuan sepanjang hayat yang bisa dimiliki semua orang.

Meskipun anjuran pemerintah menyuruh kita agar tetap lebih banyak beraktivitas dirumah bukan berarti kita hanya tinggal diam dan tidak melakukan aktivitas yang produktif, harusnya dimasa pandemi ini dijadikan sebagai momentum untuk lebih banyak berkarya dan membaca buku-buku pengembangan diri sehingga kita mampu memperkaya ilmu dan pengetahuan kita agar kita kelak menjadi generasi yang haus akan perubahan dan tidak menjadi generasi yang lebih suka rebahan.


Penulis : Nasrullah, S.I.P., M.I.P (Dosen Ilmu Perpustakaan)

Sumber : Tribun Timur Opini Edisi 8 September 2020 Hal. 15