UMKM Torut Naik Kelas: Ketika Bahasa dan Perempuan Menggerakkan Transformasi Usaha Lokal

  • 10:02 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Di Toraja Utara, UMKM bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia hidup di dapur rumah, di halaman belakang, dan di tangan-tangan perempuan yang setiap hari berjuang menjaga keberlangsungan keluarga. Melalui Pelatihan dan Pameran UMKM Toraja Utara Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh TP PKK Toraja Utara, terlihat jelas bahwa transformasi UMKM tidak hanya terjadi pada produk dan kemasan, tetapi juga pada cara para pelaku usaha, khususnya perempuan melihat dan menyebut usahanya. Pelatihan yang berlangsung pada 5–13 Desember 2025 ini melibatkan 40 pelaku UMKM pangan lokal dan 15 pengrajin bambu. Rangkaian kegiatannya mencakup peningkatan mutu produk, pengemasan, digitalisasi pemasaran, sertifikasi dan legalitas, hingga pameran UMKM yang terintegrasi dalam Toraja Highland Festival 2025. Namun di balik semua proses tersebut, terdapat sebuah pembelajaran penting yang sering luput disadari: penguatan psikologis melalui bahasa.
Perempuan UMKM dan Bahasa Sehari-hari
Jakarta Post menyebutkan bahwa ada sekitar 64,5% dari total pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan berarti dapat ditafsirkan bahwa sekitar 37 juta unit usaha dimiliki atau digerakkan oleh perempuan. Berdasarkan dari berbagai penelitian mengemukakan bahwa banyaknya UMKM yang dikelola langsung oleh perempuan dikarenakan didorong oleh adanya berbagai kebutuhan untuk memenuhi pendapatan keluarga (Rusdillah, 1987, Manning, 1998 ; Oey,1998; Tambunan, 2009c, 2015b ; Das & Mohiuddin, 2015 ; Shah & Saurabh, 2015 ; Santos& Moustafa, 2016). Berdasarkan survey yang dilakukan kepada perempuan penggerak wirausaha ditemukan tidak semua perempuan di beberapa kota di Indonesia terjun ke dunia usaha karena didorong oleh semangat kewirausahaan sejak awal. Sebagian besar dari para pelaku usaha perempuan justru memulai usaha karena factor – factor kehidupan yang mendesak misalnya kondisi perceraian, status single parent akibat kematian pasangan, suami yang menganggur, atau pendapatan suami yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari keluarga yang menjadi alasan utama perempuan mengambil peran sebagai pencari nafkah tambahan, bahkan utama.Dalam kondisi demikian, usaha mikro tidak semata – mata menjadi ruang aktualisasi diri atau inovasi bisni, melainkan menjadi strategi untuk bertahan hidup. Situasi ini menuntut para perempuan untuk adaptif, tangguh, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan ekonomi.
Banyak perempuan pelaku UMKM memulai usaha dari kebutuhan keluarga. Tidak sedikit yang menyebut usahanya sebagai “usaha kecil-kecilan”, “sekadar tambahan”, atau “coba-coba”. Bahasa seperti ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya membentuk cara berpikir dan membatasi keberanian untuk berkembang.Dalam kajian psikolinguistik, bahasa tidak hanya mencerminkan pikiran, tetapi juga membentuknya. Apa yang sering diucapkan akan memengaruhi keyakinan diri. Ketika seseorang terus menyebut usahanya “kecil”, maka secara tidak sadar ia juga menempatkan dirinya pada posisi yang terbatas.
 
Pelatihan UMKM sebagai Ruang Penguatan Bahasa
Pelatihan UMKM Toraja Utara secara tidak langsung menghadirkan apa yang disebut sebagai psycholinguistic reinforcement, yaitu penguatan psikologis melalui bahasa yang positif dan berulang. Hal ini terlihat dalam berbagai sesi pelatihan, mulai dari perubahan mindset kewirausahaan, diskusi kelompok, praktik langsung, hingga pameran produk.
Peserta tidak hanya diajarkan bagaimana memproduksi dan mengemas produk, tetapi juga diajak menemukan “WHY” dalam menjalankan usaha. Mereka diberi ruang untuk berbicara, mempresentasikan produk, dan menerima apresiasi. Kalimat-kalimat afirmatif dari fasilitator dan sesama peserta menjadi penguat yang membangun kepercayaan diri.
Secara psikologis, penguatan verbal seperti ini berfungsi sebagai positive reinforcement—ketika seseorang merasa diakui, ia akan lebih berani melangkah. Salah satu momen penting dalam pelatihan adalah pameran UMKM yang menjadi ajang peserta memperkenalkan produknya kepada publik. Di sinilah perubahan bahasa dan sikap terlihat jelas. Banyak peserta yang awalnya ragu berbicara, mulai berani menjelaskan produknya dengan percaya diri. Mereka tidak lagi sekadar “menjual”, tetapi bercerita tentang proses, kualitas, dan nilai produk lokal Toraja Utara.
Perubahan ini sejalan dengan teori self-efficacy, yang menjelaskan bahwa keyakinan diri tumbuh melalui pengalaman positif dan dukungan verbal. Ketika perempuan pelaku UMKM merasa didukung, mereka mulai melihat diri mereka sebagai pelaku usaha yang layak berkembang.
UMKM naik kelas sering diukur melalui peningkatan omzet, kemasan yang lebih menarik, atau legalitas usaha. Semua itu memang penting dan menjadi capaian nyata dari pelatihan UMKM Toraja Utara. Namun, ada capaian lain yang tidak kalah penting: perubahan cara berpikir dan berbicara tentang usaha. Bahasa yang berubah menandai identitas yang berubah. Dari “ibu rumah tangga yang berjualan” menjadi “pelaku UMKM”. Dari “sekadar mencoba” menjadi “sedang membangun usaha”. Perubahan inilah yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan usaha.
 
Ketika Bahasa Menjadi Kekuatan
Pengalaman Pelatihan dan Pameran UMKM Toraja Utara menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM khususnya  perempuan, tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Bahasa yang tepat, dukungan yang konsisten, dan ruang aman untuk bertumbuh dapat menjadi kekuatan yang luar biasa. UMKM Torut naik kelas bukan hanya tentang produk yang lebih rapi atau pasar yang lebih luas. Ia dimulai dari satu hal sederhana namun mendasar: perempuan yang berani percaya pada dirinya sendiri dan pada usaha yang ia bangun.

Penulis : Waode Surya Darmadali, S.S., M.Hum