Resiliensi Iran: Tradisi Literasi Persia dan Kemandirian Sains di Tengah Sanksi Internasional

  • 11:55 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Ketegangan USA vs Iran akhir-akhir ini memicu saya untuk membuat sedikit coretan terkait eksistensi Iran di peta dunia. Saya bukan pakar Timur Tengah, apalagi analis intelijen geopolitik. Namun, kunjungan saya sebanyak dua kali ke Iran dalam rangka short course akademik dan konferensi internasional, ditambah dengan bacaan yang cukup intens tentang geopolitik Iran, memberi saya perspektif tersendiri tentang eksistensi negara ini terutama di bidang literasi, sains, dan teknologi. Pada aspek ini, Iran menampilkan wajah yang sering kali luput dari sorotan media arus utama yang lebih gemar menampilkan narasi konflik dan ketegangan.

Dalam perspektif historis, Iran saat ini,  tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya yaitu Persia. Dalam lintasan sejarah peradaban dunia, Persia bukanlah peradaban pinggiran. Ia adalah salah satu epicentrum peradaban literasi dunia. Jauh sebelum Eropa memasuki masa Renaisans, dunia Persia telah mengenal tradisi baca-tulis yang mapan, institusi pengetahuan, birokrasi berbasis dokumen, serta filsafat dan sains yang berkembang pesat. Nama-nama seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, Nashiruddin ath-Thusi, Jalaludin Rumi, Mulla Shadra, dll bukan sekadar tokoh Islam klasik, tetapi ikon peradaban pengetahuan global.

Literasi Persia ini bukan hanya mewariskan tentang buku, tetapi tentang cara berpikir sistematis, rasional, dan berorientasi pada ilmu. Warisan inilah yang, dalam banyak hal, diwarisi oleh Iran modern. Meski telah melewati revolusi, konflik regional, dan tekanan geopolitik global, fondasi kultural berbasis literasi itu tidak runtuh. Justru ia bertransformasi menjadi sumber daya tahan (resiliensi) nasional.

Di tengah tekanan politik internasional dan embargo ekonomi yang berkepanjangan terutama dari Amerika Serikat dan sekutunya, Iran memilih jalan yang tidak populer yaitu  kemandirian. Embargo dengan tujuan untuk melumpuhkan,  justru memaksa Iran membangun kapasitas internalnya sendiri. Dalam kondisi inilah literasi sains dan teknologi menjadi tulang punggung.

Pengalaman empiris saya di Iran memperkuat kesan tersebut. Di jalan-jalan Teheran dan kota-kota lain, saya melihat mobil-mobil yang hampir seluruhnya merupakan produk dalam negeri. Bukan sekadar simbol nasionalisme, tetapi bukti bahwa industri otomotif lokal hidup dan berkembang meski terisolasi dari pasar global. Di kampus-kampus, atmosfer akademik terasa kuat,  kegiatan riset berjalan terstruktur, diskusi ilmiah hidup, dan infrastruktur pendidikan dikelola dengan serius. Iran tampak sebagai negara yang “sibuk berpikir”. Integrasi keilmuan menjadi role model agenda pengembangan keilmuan. Tidak aneh di perguruan tinggi Iran, sarjana teknik bisa menguasai hadis dan ilmu hadis.

Inilah poin pentingnya, kekuatan Iran tidak hanya bersifat politis atau ideologis, tetapi intelektual. Negara ini menyadari bahwa kekuatan abad digital ini tidak semata ditentukan oleh jumlah kapal induk atau jet tempur. Perang hari ini, dan masa depan juga ditentukan oleh penguasaan sains, teknologi, dan terutama literasi elektronik seperti data, siber, kecerdasan buatan, dan sistem informasi.

Dalam konteks ketegangan Amerika Serikat–Iran, fakta ini menjadi krusial. Amerika Serikat unggul secara militer konvensional. Namun, Iran bukan lawan yang bisa diperlakukan seperti negara lemah tanpa kapasitas intelektual. Kemampuan Iran dalam teknologi siber, pengembangan nuklir sipil, drone, dan rekayasa teknologi asimetris membuat kalkulasi perang menjadi sangat mahal dan berisiko. Di sinilah letak keraguan Amerika untuk melangkah lebih jauh. Menurut sejumlah laporan, Iran mampu mengacau frekuensi dan gelombang transimisi Starlink yang membuat USA berhitung ulang untuk melakukan invasi.

Resiliensi Iran adalah resiliensi berbasis peradaban. Ia bukan lahir dari kekuatan senjata semata, tetapi dari tradisi literasi panjang yang membentuk cara berpikir kolektif bangsanya. Persia telah mengajarkan Iran bahwa pengetahuan adalah kekuatan paling tahan lama. Dan dalam dunia yang semakin ditentukan oleh sains dan teknologi, pelajaran itu terbukti tetap relevan.

Sungguminasa, Jumat 23 Januari 2026