Istana Negara, dan Penaklukan Ide: Refleksi Akademik atas Taklimat Kebangsaan Presiden Prabowo

  • 10:08 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Rektor UIN Alauddin Makassar, Bapak Prof. Dr. Hamdan Juhannis, MA, yang telah mengajak dan mengamanahkan saya untuk turut hadir di Istana Negara Republik Indonesia dalam kegiatan taklimat Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 15 Januari 2026.

Kehadiran ini bukan semata kehormatan personal, melainkan juga representasi institusional perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKN) di antara PTN/S lainnya dalam forum strategis kenegaraan yang sarat makna akademik, kebangsaan, dan peradaban.

Sekitar 1.200 peserta yang terdiri atas profesor, serta pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia berkumpul di Istana Negara. Sejak pukul 06.00 pagi, ribuan peserta telah mengantre melalui serangkaian pemeriksaan keamanan yang ketat, di bawah rintik hujan yang turun perlahan.

Pengalaman ini memberi kesan yang tidak biasa. Istana Negara, yang sering kita lihat sebagai simbol kekuasaan dan otoritas, pada pagi itu menghadirkan *suasana reflektif*. Antrean panjang, pemeriksaan berlapis, dan penantian giliran seolah menghadirkan metafora kuat tentang kehidupan eskatologis, kehidupan setelah Kematian, tentang makna hakiki menghadap kepada penguasa, tentang hari perhitungan di akhirat, ketika manusia berdiri menunggu giliran untuk diperiksa amal perbuatannya.

Dalam tradisi keislaman, digambarkan bahwa manusia kelak akan menunggu di bawah panas yang menyengat, kecuali mereka yang memperoleh pertolongan dan syafaat. Pada titik ini, pengalaman kami yang terbantu melalui jalur khusus oleh pendamping (pak Ali Akbar) yang membawa undangan untuk diberi tanda, menghadirkan refleksi teologis yang mendalam bahwa dalam kehidupan dunia pun, akses, relasi, dan kepercayaan sering kali menjadi jalan pintas yang meringankan beban. Analogi ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan realitas dunia dan akhirat, melainkan sebagai bahan renungan tentang pentingnya integritas, amanah, dan keberpihakan nilai dalam setiap peran sosial dan institusional.

Setelah melewati tiga tahap pemeriksaan, saya, bersama Rektor UIN Alauddin dan sejumlah pimpinan perguruan tinggi lainnya memasuki ruang utama Istana. Pada pukul 09.30 WIB, Presiden Prabowo Subianto tiba. Acara diawali dengan doa dan sambutan Menteri Pendidikan Tinggi, lalu dilanjutkan dengan taklimat Presiden yang berlangsung sekitar tiga setengah jam. Durasi yang panjang tersebut terasa singkat karena substansi yang padat, gaya penyampaian yang komunikatif, serta humor khas Presiden yang membuat suasana tetap hidup dan fresh.

Secara konseptual, Presiden Prabowo memaparkan tiga model utama dalam statecraft atau tata kelola negara. Pertama, statecraft berbasis ideologi, yang menekankan pentingnya fondasi nilai, jati diri bangsa, dan konsistensi arah kebijakan dalam kerangka Pancasila dan konstitusi. Kedua, statecraft berbasis ekonomi, yang berorientasi pada kemandirian nasional, penguatan sumber daya strategis, dan keberanian negara dalam mengelola kekayaan alam demi kesejahteraan rakyat. Ketiga, statecraft berbasis survival, yakni kesadaran geopolitik dan geostrategis bahwa negara harus mampu bertahan, adaptif, dan tangguh di tengah kompetisi global yang semakin keras dan tidak selalu adil.

Dalam konteks ini, Presiden menempatkan perguruan tinggi sebagai the brain of the country. Komunitas akademik dipandang bukan sekadar pelengkap kebijakan, melainkan aktor kunci yang menentukan arah peradaban bangsa. Gagasan ini menegaskan peran strategis universitas sebagai pusat produksi pengetahuan, inovasi kebijakan, dan pembentuk etos kebangsaan yang rasional sekaligus bermoral. Taklimat ini, dengan demikian, bukan hanya pidato politik, melainkan kuliah umum kebangsaan yang mengajak civitas academica untuk keluar dari menara gading dan terlibat aktif dalam proyek besar pembangunan nasional.

Momen penutup yang menarik terjadi saat Presiden bersalaman dengan para peserta. Ketika tiba di hadapan Rektor UIN Alauddin, dialog berlangsung sedikit lebih lama dibandingkan peserta lain. Alih-alih menyebut daerah asal sebagaimana yang lainnya, Prof. Hamdan justeru memperkenalkan diri sebagai pimpinan PTKN. Respons Presiden langsung mengarah pada isu Kampung Haji di Mekkah, sebuah gagasan strategis yang menyentuh dimensi keagamaan, diplomasi, dan pelayanan umat. Dalam suasana cair tersebut, Presiden tampak tertawa sumringah ketika Rektor Hamdan Juhannis melontarkan kalimat reflektif: “Pak Presiden, ini bukan sekadar taklimat, ini penaklukan ide.”  Momen percakapan yang agak lama ini diabadikan oleh banyak camera di istana. Semoga nanti bisa diakses, mengingat kami (semua peserta taklimat) dilarang membawa camera dan hp ke dalam istana.

Ungkapan tersebut terasa tepat. Taklimat di Istana Negara hari itu memang bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya penaklukan kesadaran kolektif melalui ide-ide besar tentang negara, bangsa, dan masa depan Indonesia. Sebuah penaklukan yang tidak dilakukan dengan kekuasaan koersif, melainkan dengan gagasan, visi, dan ajakan intelektual.

Sungguminasa, Jumat 16 Januari 2026