Ramadhan dan Demolisasi DNA Koruptif

  • 02:29 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Berbicara tentang korupsi sepertinya sudah tidak bisa dihitung lagi berapa banyaknya kasus yang terjadi, itu karena DNA koruptif sudah  mengakar di dalam kehidupan penyelenggaraan bernegara. Kasus terakhir adalah korupsi di lembaga BUMN Pertamina. 

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Fahmy Radhi., MBA, menilai kasus mega korupsi Pertamina merugikan negara sekitar Rp 193,7 , sebuah angka yang fantastis di saat negara sedang melakukan program efisiensi. 

Di tengah berbagai tantangan sosial, termasuk maraknya perilaku koruptif di berbagai lapisan masyarakat,  Ramadhan diharapkan menjadi momentum untuk mendemolisasi (menghancurkan) DNA koruptif yang telah mengakar dalam budaya dan pola pikir individu maupun kolektif.

Proses demolisasi DNA koruptif  tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif, dengan melibatkan perubahan nilai, pola pikir, dan tindakan sosial.

DNA koruptif adalah metafora untuk menggambarkan bagaimana perilaku koruptif telah menjadi kebiasaan yang diwariskan, tertanam, dan bahkan dianggap wajar dalam budaya tertentu. Praktik ini bisa berawal dari hal-hal kecil, seperti kebiasaan melanggar aturan, menyuap, atau mencari jalan pintas.

DNA koruptif ini berkembang ketika ada pembiaran dan ketidakpedulian sosial terhadap perilaku curang. Jika tidak segera didekonstruksi, pola ini akan terus mengakar, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Oleh karena itu, perlu ada intervensi berbasis nilai-nilai spiritual dan moral yang mampu membongkar pola pikir dan kebiasaan tersebut.

Karena itu, Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menghancurkan DNA koruptif karena esensi Ramadhan menekankan pada nilai-nilai kejujuran, pengendalian diri, dan solidaritas sosial. Selama bulan ini, umat Islam diajak untuk menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara moral dan spiritual.

Sungguminasa 6 Ramadan 1446 H