Bencana; Pintu Refleksi untuk Perubahan

  • 09:26 WITA
  • Administrator
  • Artikel

 Beberapa minggu terakhir ini, bencana melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Sejumlah komentar atas bencana tersebut berseleweran di media sosial, baik yang sekadar menyampaikan rasa simpati, dan ada juga mengulas permasalahan dari sisi teologis.

Musibah yang terjadi ini secara tidak langsung dapat memberikan pendidikan tentang psikologi kematian.  Manusia pasti senantiasa berusaha untuk survive selama dia mampu, sebab ada kekhawatiran dan kecemasan jika dihadapkan dengan kematian (Q.S. al-Jumu’ah: 7) Namun Tuhan telah menetapkan bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti mengalami kematian (Q.S. Ali Imran: 185) Kematian tidak mengenal waktu, tua-muda, miskin-kaya, bila saatnya tiba, maka tidak ada seorang pun yang sanggup menangguhkannya meski sesaat (Q.S.al-Munafiqun: 11)

Meski secara emosional, manusia merasa takut dengan istilah ”mati”, namun Tuhan maha mengerti dengan kondisi psikologis manusia yang merasakan kekhawatiran dengan kematian. Oleh karena itu, di samping istilah ”al-maut” (mati/kematian), Allah juga menggunakan terminologi ”al-ruju” (pulang/kepulangan) untuk kematian, sebab jika disebut kata ”pulang”, secara emosi manusia biasanya juga senang. 

Dalam konteks  psikologis, manusia memang rindu pulang ke rumah atau kampung halamannya, karena dia berasal dari rumah dan kembali ke rumah bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang disayangi dan dicintainya. Meski manusia sukses di negeri orang, namun jika ditanya, apa yang ia rindukan? Jawabannya adalah pulang kampung. Jika ada manusia yang takut pulang ke rumah,  pasti ada kesalahan yang dilakukannya kepada istri atau anak-anaknya.

Allah merahasiakan tiga hal dalam kehidupan manusia yaitu;  kematian, jodoh dan rezki.  Kerahasiaan ini sesungguhnya memiliki hikmah yang sangat besar. Kematian dirahasiakan Tuhan kedatangannya kepada manusia agar mereka memiliki motivasi berbuat baik. Jodoh dirahasiakan agar manusia termotivasi mencari pasangan yang terbaik, demikian juga rezki dirahasiakan agar manusia selalu memiliki motivasi dalam bekerja dan berusaha.  

 Semua bencana yang terjadi di atas permukaan bumi ini merupakan hamparan teks firman Tuhan untuk dibaca bagi mereka yang memiliki akal-budi. Kalimat Tuhan tidak hanya tertulis di dalam kitab-kitab suci, tetapi terbentang melalui segenap kejadian yang  ada di hadapan mata manusia. Sejumlah musibah ini juga memberikan pendidikan kepada masyarakat  agar senantiasa tetap waspada terhadap segala bencana. Sejumlah daerah yang boleh jadi diangap ”aman” bagi warganya bukanlah jaminan mutlak daerah itu steril dari kerusakan dan kehancuran.  Renungkanlah firman Allah berikut: Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu, atau Dia meniup angin keras sedangkan kamu tidak mendapat perlindungan (Q.S. al-Isra: 68)

Musibah juga memberikan pembelajaran kepada manusia  untuk memegang teguh visi kehidupan. Sudah menjadi hukum alam dan hukum sejarah yang ditetapkan Tuhan bahwa pribadi yang mau tumbuh dan berkembang kuat mesti dihadapkan lebih dahulu dengan sejumlah problem dan hambatan agar seseorang atau bangsa dipaksa untuk menggali potensi yang masih tersembunyi. Rangkaian hidup para nabi dan rasul, terlebih nabi yang masuk dalam kategori Ulul Azmi banyak mengalami cobaan yang kesemuanya itu merupakan proses membangun visi kehidupan mereka.

Tragedi atau musibah merupakan proses metamorfosis untuk meraih kualitas yang lebih baik, seperti kepompong yang berproses hendak menjadi kupu-kupu yang kemudian dapat menikmati indahnya udara, dan taman bunga. Orang yang tidak mampu melihat secara jernih terhadap hukum pertumbuhan dan tidak berpegang kepada hukum sebab-akibat, akan sangat mudah kehilangam visi dan energi hidup.

Deretan musibah yang terjadi di negara kita merupakan pembelajaran Tuhan melalui sabda-sabda alamnya. Ibarat sebuah sawah,  negeri ini sebenarnya sedang ”dibajak” oleh penggarap sawah, agar tanahnya subur sehingga dapat menghasilkan sejumlah tanaman.  

Samata, 13 Mei 2024