MAKASSAR — Sejumlah dosen dan belasan mahasiswa Program Studi (Prodi) Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Alauddin Makassar turut berpartisipasi aktif dalam acara bedah buku bersejarah bertajuk “Sekali ke Djokja tetap ke Djokja”: Ajoeba Wartabone di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (16/6/2026). Forum diskusi ilmiah yang diinisiasi oleh Lembaga Lamahu Huyula Heluma Lo Hulontalo ini diselenggarakan untuk membedah rekam jejak perjuangan tokoh nasional asal Gorontalo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Agenda literasi sejarah ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dan dihadiri oleh jajaran dosen SPI seperti Dr. Aksa serta Dr. Syamhari bersama 15 mahasiswa. Keikutsertaan sivitas akademika SPI menegaskan komitmen program studi dalam memperdalam kajian historiografi perjuangan kemerdekaan sekaligus menghubungkan teori akademik dengan forum dialektika sejarah tingkat nasional.
Acara bedah buku tersebut menjadi magnet intelektual dengan kehadiran tokoh-tokoh penting lintas generasi, antara lain mantan Gubernur Gorontalo Prof. Fadel Muhammad, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulawesi Selatan Prof. Jumadi, serta sejarawan nasional Dr. Mukhlis Paeni. Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan sejarawan senior Dr. Suryadi Mappangara sebagai salah satu narasumber kunci yang mengulas signifikansi politik dan historis perjalanan hidup Ajoeba Wartabone.
Selain menjadi forum pengayaan materi riset bagi mahasiswa, kegiatan ini berfungsi sebagai jembatan silaturahmi akademik antarsejarawan terkemuka, tokoh masyarakat, dan generasi penerus pegiat sejarah. Interaksi langsung dengan para pakar memberikan wawasan komprehensif bagi mahasiswa terkait metodologi analisis biografi tokoh serta penelusuran fakta sejarah masa revolusi.
Kehadiran delegasi Prodi SPI dalam bedah buku ini diharapkan mampu memperluas cakrawala referensi sejarah pergerakan bangsa di kalangan generasi muda kampus. Momentum ini sekaligus memperkuat motivasi mahasiswa dan dosen untuk terus aktif meneliti, menulis, serta mendokumentasikan peran tokoh-tokoh daerah dalam bingkai narasi sejarah Indonesia yang lebih inklusif.