GOWA – Segenap Civitas Akademika Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar tengah diliputi rasa bangga dan syukur. Pada Kamis, 2 April 2026, Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag. secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Eco-Sufisme Islam.
Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar-Gowa. Acara bersejarah ini turut dihadiri langsung oleh Rektor UIN Alauddin Makassar, jajaran anggota senat, para guru besar, dosen, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai institusi dan kalangan akademik.
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk "Eco-Sufisme dan Tobat Ekologis", Prof. Gustia Tahir menyoroti secara tajam krisis lingkungan global yang kini kian mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa krisis ekologis yang dihadapi umat manusia hari ini menuntut sebuah revolusi batin dan pendekatan spiritual, bukan sekadar solusi atau inovasi teknologis semata.
Menurutnya, solusi apa pun hanya akan menjadi penundaan kehancuran apabila tidak disertai dengan perubahan cara merasa, memandang, dan menjalani hidup. Relasi manusia dengan alam harus dibangun kembali atas dasar cinta dan komitmen untuk merawat, bukan atas dasar dominasi dan eksploitasi.
“Merusak lingkungan bukan hanya pelanggaran ekologis, tetapi juga kegagalan spiritual,” ungkapnya tegas di hadapan para hadirin. Kesalehan, tambahnya, tidak boleh berhenti di atas sajadah, melainkan harus menjelma dalam cara manusia membuang sampah, menggunakan energi, hingga merumuskan kebijakan publik.
Lebih dalam mengupas gagasan Eco-Sufisme, Prof. Gustia memaparkan dua perubahan fundamental. Pertama, adalah perubahan cara memandang alam. Alam tidak lagi dilihat semata-mata sebagai "sumber daya alam", melainkan sebagai "mitra kehidupan". Sungai, hutan, dan laut adalah bagian dari jaringan kosmik agung yang menopang keberadaan manusia itu sendiri.
Kedua, adalah etika hidup cukup. Ia meluruskan pemahaman tentang zuhud dalam tradisi tasawuf. Zuhud sejati bukanlah penolakan terhadap dunia, melainkan kebebasan dari kerakusan—sebuah ajaran untuk mengambil seperlunya dan meninggalkan yang berlebihan demi menekan tingkat eksploitasi modern.
Di penghujung orasinya, Prof. Gustia juga menitipkan pesan mendalam bagi dunia akademik dan para pemangku kebijakan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya dengan mencetak manusia cerdas, tetapi harus melahirkan manusia bijak.
"Kampus bukan hanya pusat riset, tetapi juga pusat nurani. Dari ruang-ruang akademik inilah narasi baru tentang relasi manusia dan alam harus disuarakan," tegasnya. Bumi masih bisa disembuhkan selama manusia bersedia menyembuhkan dirinya sendiri dan kembali melihat alam dengan mata hati.
Keluarga besar Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar mengucapkan Selamat dan Sukses atas pencapaian gelar akademik tertinggi yang diraih oleh Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag. Semoga ilmu yang dikukuhkan senantiasa membawa keberkahan, tidak hanya bagi kemajuan peradaban dan dunia pendidikan, tetapi juga bagi kelestarian alam semesta.
Editor & Desain Thumbnail : Bayu
Keywords: Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, Dosen Jurusan Perpustakaan, Pengukuhan Guru Besar.