Jumat, 22 Maret 2012
MAHASISWA MENGADAKAN TOUR BUDAYA DAN WISATA.
Ditulis Oleh : Administrator UIN

MAHASISWA MENGADAKAN TOUR BUDAYA DAN WISATA.

 

Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora jurusan Sejarah dan Islam (SKI) mengadakan Tour Budaya dan Wisata di tiga tempat yaitu Kabupaten Tanah Toraja utara, Kotip Palopo dan Kabupaten Luwu Utara tepatnya di Malangke tempat Makam Dato Sulaeman/Patimang dan makam Andi Patiware (23 s/d 25 Maret 2012).

Di Kabupaten Tanah Toraja Utara, mahasiswa mengunjungi Pemakaman Masyarakat yang mempunyai aliran kepercayaan Alu’Todolo, dengan sistem pemakaman tidak di kubur dalam tanah tetapi di simpan di lereng sebuah gunung yang dibenamkan ke lubang di lereng  gunung tersebut yang sudah di pahat terlebih dahulu (Situs Lemo). Ini memiliki keunikan tersendiri. Apalagi lubang yang disiapkan untuk mayat tersebut berada di ketinggiaan. Dan menurut cerita yang terhimpun, bukan hanya satu manyat dalam satu lubang tetapi banyak, memang diperuntukkan untuk satu keluarga. Lain halnya di Situs LONDA,  mayat bersama dengan peti mayat ditempatkan di lereng  gunung dengan bergelangtungan yang sudah, dan yang menarik adalah di dalam Gowa di LONDA ditempatkan saja petih mayat, dan adanya tulang-tulang yang berserakan. Ini sangat menarik dari sisi budaya dan kepercayaan.

Di Kotip Palopo, Mahasiswa mendatangi mesjid Tua Palopo, yang berada di tengah-tengah kota. Mahasiswa

Masjid  Tua Palopo merupakan masjid Kerajaan Luwu yang didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M. Masjid yang memiliki luas 15 m2 ini diberi nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sebagian masyarakat percaya bahwa bagi orang yang datang ke Kota Palopo, belum dikatakan resmi menginjakkan kaki di kota ini apabila belum menyentuh tiang utama Masjid Tua Palopo yang terbuat dari pohon Cinaduri, serta dinding tembok yang menggunakan bahan campuran dari putih telur. Oleh karena itu, masjid ini tidak pernah sepi dari jemaah, khususnya pada bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut, setiap selesai shalat dhuhur hingga menjelang berbuka puasa, biasanya para jamaah tetap tinggal di masjid untuk mengaji, tadarrus Alquran, dan berzikir. Jamaah yang datang bukan hanya warga Kota Palopo, tetapi banyak juga yang datang dari kabupaten tetangga, seperti Luwu, Luwu Utara, Sidrap, dan Wajo.

Ketika Arsitektur Masjid Tua Palopo ini sangat unik. Ada empat unsur penting yang bersebati (melekat) dalam konstruksi masjid tua ini, yaitu unsur lokal Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.

Pertama, unsur lokal Bugis. Unsur ini terlihat pada struktur bangunan masjid secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susun yang mengikuti konsep rumah panggung. Konsep tiga susun ini juga konsisten diterapkan pada bagian lainnya, seperti atap dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun; tiang penyangga juga terdiri dari tiga susun, yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu; dinding tiga susun yang ditandai oleh bentuk pelipit (gerigi); dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, dimulai dari warna hijau, putih dan coklat.

Kedua, unsur Jawa. Unsur ini terlihat pada bagian atap, yang dipengaruhi oleh atap rumah joglo Jawa yang berbentuk piramida bertumpuk tiga atau sering disebut tajug. Dua tumpang atap pada bagian bawah disangga oleh empat tiang, dalam konstruksi Jawa sering disebut sokoguru. Sedangkan atap piramida paling atas disangga oleh kolom (pilar) tunggal dari kayu cinna gori (Cinaduri) yang berdiameter 90 centimeter.

Ketiga, unsur Hindu. Unsur ini terlihat pada denah masjid yang berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konstruksi candi. Pada dinding bagian bawah, terdapat hiasan bunga lotus, mirip dengan hiasan di Candi Borobudur. Pada dinding bagian atas juga terdapat motif alur yang mirip dengan hiasan candi di Jawa.

Keempat, unsur Islam. Unsur ini terlihat pada jendela masjid, yaitu terdapat lima terali besi yang berbentuk tegak, yang melambangkan jumlah shalat wajib dalam sehari semalam. Demikian penjelasan Bapak Usman yang merupakan HUMAS Mesjid Tua tersebut.

Selanjutnya dilanjutkan kunjungan ke Musium Istana, disini mahasiswa mendapat penjelasan tentang keberadaan Istana, dan penjelasan cikal bakal lahirnya kerajaan Luwu . juga diperlihatkan koleksi-koleksi museum, seperti silsilah raja-raja Luwu, pakaian-pakaian raja, serta pelaminan.

Kunjungan selanjutnya ke Makam Dato Sulaeman yang berlokasi di Kab. Luwu Utara, tepatnya di Malangke. Yang merupakan salah seorang dari Trio Dato penyebar Islam di Sulawesi Selatan. Dato ri Bandang, Dato ri Tiro dan Dato Sulaeman yang biasa juga dipanggil Dato Patimang. Makam ini banyak dikunjungi oleh orang dengan berbagai maksud dan tujuan. Yang pasti, ketika mahasiswa dating ke lokasi Makam, maka terdapat juga masyarakat dengan berpakaian penganting suami isteri datang ke makam tersebut. Setelah di Tanya, “kenapa berpakaian seperti ini” maka orang tersebut mengatakan , “ saya kesini karena ada niat dan berjanji sebelum kami menikah, kalau ternyata terkabul permintaan kami yaitu menikah maka akan kami kesini untuk melepas hajat yang sudah diucapkan. Di lokasi makam Dato sulaeman juga terdapat makam Andi Patiware yang merupakan raja pertama Luwu yang memeluk Islam.

 


[ Kembali ]